Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Perbankan Nasional Perkuat Manajemen Risiko, Jaga Stabilitas di Tengah Dinamika Global

Cak Fir • Jumat, 27 Maret 2026 | 22:56 WIB
Ketua Umum Perbanas yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi.
Ketua Umum Perbanas yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi.

Jakarta— Industri perbankan nasional memperketat penerapan prinsip kehati-hatian (prudential banking) seiring meningkatnya risiko global akibat eskalasi konflik Iran–Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat. Ketegangan geopolitik tersebut dinilai berpotensi menekan stabilitas harga komoditas strategis, terutama minyak mentah, serta memicu volatilitas pasar keuangan global.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menyatakan bahwa meskipun tekanan eksternal meningkat, fundamental perbankan domestik masih berada dalam kondisi solid. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, likuiditas yang memadai, serta permodalan yang kuat.

“Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan. Dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset,” ujarnya.

Perbanas mencatat, industri perbankan telah dan terus memperkuat berbagai langkah mitigasi risiko. Di antaranya melalui pelaksanaan stress test sektoral dan penguatan sistem peringatan dini (early warning system) guna mengantisipasi potensi penurunan kualitas kredit.

Stress test dilakukan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi, seperti transportasi, logistik, dan manufaktur. Selain itu, perbankan juga meningkatkan disiplin penyaluran kredit melalui pendekatan risk-based pricing, menjaga kecukupan likuiditas melalui optimalisasi rasio liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NSFR), serta mengelola eksposur nilai tukar secara lebih konservatif melalui strategi lindung nilai dan pengendalian posisi devisa neto.

“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas, khususnya di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” tambahnya.

Dengan penguatan bauran kebijakan tersebut, industri perbankan nasional diharapkan tetap resilien dalam menghadapi tekanan eksternal, sekaligus mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka pendek hingga menengah. (fir)

Editor : M Firman Syah
#BRI #BRImo #BRILink #BBRI