Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ekspor Industri Fesyen Tembus USD 8,85 Miliar

Nofilawati Anisa • Kamis, 26 Maret 2026 | 12:08 WIB
PAMERAN: Batik menjadi salah satu komoditas fasyen Indonesia yang laris di pasar internasiobal, seperti di Amerika Serikat, Jerman, Singapura, Malaysia, dan Kanada. (IST)
PAMERAN: Batik menjadi salah satu komoditas fasyen Indonesia yang laris di pasar internasiobal, seperti di Amerika Serikat, Jerman, Singapura, Malaysia, dan Kanada. (IST)

RADAR SURABAYA - Di tengah persaingan usaha yang semakin kompetitif, Kementerian Perindustrian terus berupaya meningkatkan kemampuan industri kecil dan menengah (IKM), khususnya pada subsektor fesyen dan kriya. 

Upaya ini dilakukan guna memperkuat daya saing IKM agar mampu beradaptasi dengan dinamika industri serta tren pasar yang terus berkembang.

Baca Juga: Viral! Bentrokan Dua Kampung di Jonggol Bogor Bermula dari Adu Meriam Kayu 

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, industri fesyen dan kriya memiliki rantai nilai yang panjang dari hulu hingga hilir. 

Keduanya saling terhubung dalam menciptakan nilai tambah dan daya saing global. 

Rantai nilai tersebut mencakup penyediaan bahan baku, desain dan prototyping, proses produksi, branding dan pemasaran, hingga distribusi produk. 

Baca Juga: Wali Kota Eri Targetkan Kampung Pancasila Terlaksana di Seluruh RW pada April Nanti

“Data terbaru menunjukkan bahwa industri fesyen dan kriya tetap menjadi salah satu andalan dalam ekonomi kreatif Indonesia,” kata Agus, Kamis (26/3).

Produk kriya dan fesyen dalam negeri juga terbukti mampu bersaing dan diminati di pasar ekspor. 

Hal ini tercermin dari nilai ekspor industri kerajinan pada tahun 2025 yang mencapai USD 806,63 juta, sementara nilai ekspor industri fesyen yang erat kaitannya dengan industri pakaian jadi mencapai USD 8,85 miliar.

Baca Juga: Ditelepon Tak Diangkat, Mahasiswa Asal Papua Ditemukan Meninggal Dunia di Jetis Kulon Surabaya

“Capaian tersebut menegaskan posisi strategis subsektor fesyen dan kriya sebagai penggerak penting ekonomi kreatif nasional serta menunjukkan peluang pertumbuhan produk kreatif Indonesia di pasar global,” ungkapnya.

Agus menambahkan, pelaku IKM di sektor fesyen dan kriya perlu terus mengembangkan keunggulan desain, serta nilai tambah produknya seiring dengan perkembangan tren pasar dan perubahan gaya hidup masyarakat.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Product Innovation Management oleh Gemser dan Leenders (2021), perusahaan yang mengintegrasikan desain dalam proses pengembangan produknya memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukannya.

Baca Juga: Jual via Facebook, Satu Lagi Penadah Motor Curian Pasutri Asal Surabaya Ditangkap

“Temuan ini menegaskan bahwa desain bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari strategi pertumbuhan dan peningkatan daya saing industri. Industri kreatif fesyen dan kriya harus memiliki nilai tambah melalui desain yang kuat dan berbeda,” tegasnya.

Sebagai bagian dari upaya penguatan tersebut, Kemenperin melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) yang berada di bawah Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), menggelar forum Design Talk pada 6 Maret di Badung, Bali dengan tema “Strategi Penguatan Daya Saing Industri Kreatif melalui Desain”. 

Baca Juga: Update Harga Emas Kamis 26 Maret 2026: UBS & Galeri24 Naik, Lihat Daftar Lengkapnya!

Kegiatan ini menjadi ajang diskusi dan berbagi pengetahuan antara perajin dan pelaku IKM dengan para pemangku kepentingan lainnya seperti akademisi serta praktisi desain.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menjelaskan, BPIFK menggandeng Asosiasi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII) sebagai kolaborator strategis dalam memperkuat peran desain dalam pengembangan produk industri.

“Kegiatan bincang-bincang dengan topik Design as Industrial Foundation ini diikuti oleh 75 peserta yang berasal dari pelaku IKM, akademisi, serta praktisi desain,” ujarnya.

Baca Juga: Bursa Transfer: Liverpool Buru Pengganti Mohamed Salah: Michael Olise Jadi Target Utama!

Reni menambahkan, kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya untuk mendorong peningkatan daya saing IKM fesyen dan kriya. Sekaligus mempertemukan perspektif industri, profesional desain, dan pelaku usaha dalam satu ruang diskusi yang terintegrasi. (nis/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#IKM Penggerak Pemulihan Ekonomi #Distribusi Air PDAM #Batik #ekspor #kerajinan #Hilir #Daya Saing UMKM #perindustrian #kriya #hulu #Global AR Financing #Agus Gumiwang Kartarsasmita #menteri #fesyen #produk