RADAR SURABAYA - PT Terminal Teluk Lamong (TTL) mencatat kinerja positif di bulan Februari 2026, dengan capaian realisasi produksi petikemas sebesar 467.133 TEUS.
Capaian itu naik signifikan sebesar 8,27 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Senior Manager Sekretariat Perusahaan dan Hukum PT Terminal Teluk Lamong, Syaiful Anam mengatakan, peningkatan kinerja ini seiring dengan keberhasilan strategi operasional terminal guna mendukung peningkatan aktivitas perdagangan dan distribusi logistik di wilayah Jawa Timur.
Secara umum, peningkatan arus petikemas TTL didorong oleh tambahan service baru oleh beberapa pelayaran internasional di Terminal Peti Kemas (TPK) Lamong, serta peningkatan aktivitas kapal di Terminal Nilam seiring dengan penambahan tiga call kapal petikemas domestik.
“Capaian produksi ini semakin memantapkan langkah perusahaan di awal tahun untuk mencapai target tahun 2026,” kata Syaiful dalam keterangan resminya, Selasa (24/3).
Baca Juga: Senjata Era Majapahit Cetbang Pernah Ditemukan di Surabaya
Lebih jauh ia menjelaskan, capaian kinerja pada awal tahun ini menunjukkan peningkatan terus menerus kepercayaan pengguna jasa terhadap layanan operasional terminal.
“Peningkatan volume petikemas dan aktivitas kapal menjadi indikator positif bahwa layanan operasional PT TTL semakin dipercaya oleh para pelaku industri pelayaran dan logistik. Perusahaan akan terus berupaya meningkatkan kualitas layanan, produktivitas terminal guna memberikan nilai tambah bagi pengguna jasa,” ujarnya.
Manurut Syaiful, kinerja positif di awal tahun 2026 juga dipengaruhi oleh keberhasilan strategi digitalisasi terminal melalui implementasi sistem Integrated Planning and Control.
“Program ini mendorong peningkatan produktivitas terminal sekaligus memperkuat aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di bidang operasional,” sambungnya.
Sementara itu, untuk mengantisipasi lonjakan arus petikemas saat Hari Raya Idulfitri lalu, TTL menyiapkan sejumlah strategi sehingga semua proses berjalan lancar.
Strategi situ di antaranya memastikan kesiapan peralatan dan kapasitas terminal, penyediaan area buffer zone untuk armada truk pengguna jasa, hingga implementasi terminal booking system untuk mengatur jadwal kedatangan truk menuju terminal.
“Kami juga sinergi dengan pemangku kepentingan logistik dan pengguna jasa,” pungkjas Syaiful. (nis/opi)