RADAR SURABAYA — Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Jawa Timur, Wahyu Dyah Emawati, menyebut target investasi di Jawa Timur pada 2026 dipatok sebesar Rp 147,7 triliun.
Angka tersebut setara dengan capaian target tahun 2025, dengan harapan minimal bisa dipertahankan bahkan dilampaui.
“2025 ini targetnya Rp 147,7 triliun. Tahun 2026 kita juga di angka yang sama, paling tidak harus melampaui atau minimal sama,” ujarnya, Rabu (18/3).
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Kamis, 19 Maret 2026: Potensi Hujan Disertai Petir Sore hingga Malam
Ia menambahkan, tren kenaikan investasi di Jawa Timur terus dijaga. Bahkan, pada 2027 targetnya kembali dinaikkan menjadi Rp 148 triliun. “Jadi kita sudah tidak bisa turun karena memang sudah tinggi,” imbuhnya.
Untuk tahun 2026, sejumlah sektor industri diproyeksikan menjadi penopang investasi. Mulai dari industri makanan, kimia, aluminium hingga smelter dan berbagai industri logam lainnya.
“Ini banyak, ada industri makanan, industri kimia, aluminium, smelter, dan beberapa industri logam,” jelasnya.
Baca Juga: Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret
Wanita yang lebih dikenal dengan sebutan Erma ini berharap, variasi sektor tersebut dapat mendorong pemerataan investasi di Jawa Timur, tidak hanya terpusat di kawasan Gerbangkertosusila. Selain itu, investasi juga diharapkan berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja.
Di tengah ketidakpastian global, Erma mengakui investor, khususnya Penanaman Modal Asing (PMA), cenderung lebih berhati-hati. Meski begitu, pihaknya tetap optimistis karena sejumlah investor sudah mulai masuk sejak 2025.
“Kalau saya melihat, mereka sudah ada beberapa yang masuk dari 2025, paling tidak ada yang menambah. Tapi kalau mau nilainya besar, kita memang menunggu PMA besar,” ungkapnya.
Ia menegaskan, menjaga kepercayaan investor menjadi kunci utama. Pelayanan yang baik serta penyelesaian masalah secara cepat dinilai menjadi promosi efektif untuk mempertahankan investor sekaligus menarik investor baru.
“Kita jaga yang kecil-kecil dulu, kita layani dengan baik. Kalau ada masalah kita selesaikan. Itu promosi yang cukup manjur supaya mereka tetap bertahan dan mengundang investor lain datang,” katanya.
Lebih lanjut, Erma menyebut kebutuhan akan kehadiran investor besar atau “indukan” sangat penting, terutama untuk membentuk klaster industri yang jelas dari hulu hingga hilir.
“PMA besar itu yang kita tunggu. Biasanya satu tapi nilainya besar. Kita butuh klaster yang jelas, hulunya di mana, marketnya di mana,” jelasnya.
Saat ini, Pemprov Jawa Timur juga tengah menyusun perencanaan investasi melalui rencana umum penanaman modal, termasuk integrasi peta investasi atau one map policy guna memperjelas arah pengembangan kawasan industri di masa depan. (mus)
Editor : Nurista Purnamasari