Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Rupiah Dekati Rp17.000 per Dolar AS, RDG Bank Indonesia Jadi Momen Krusial Pekan Ini

Rahmat Adhy Kurniawan • Senin, 16 Maret 2026 | 05:20 WIB
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia dinanti para pelaku ekonomi.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia dinanti para pelaku ekonomi.

Prediksi Stabilitas Ekonomi Indonesia Pekan Depan: Sorotan RDG Bank Indonesia dan Tekanan Rupiah

RADAR SURABAYA – Perekonomian Indonesia diperkirakan tetap stabil pada pekan 16–23 Maret 2026.

 Fokus utama pelaku pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (17/3) besok. 

Sejumlah ekonom memproyeksikan suku bunga acuan atau BI-Rate akan dipertahankan di level 4,75 persen.

Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dari sisi inflasi, data terbaru menunjukkan inflasi Februari 2026 mencapai 4,76 persen secara tahunan (year on year/yoy). 

Angka ini melampaui target inflasi Bank Indonesia yang berada di kisaran 2,5 ± 1 persen. Kenaikan inflasi dipicu lonjakan harga komoditas pangan yang bersifat bergejolak (volatile food) serta kenaikan harga yang diatur pemerintah (administered prices).

Meski demikian, tekanan inflasi pada Maret diperkirakan masih relatif tinggi seiring meningkatnya permintaan selama momentum Ramadan dan menjelang Lebaran.

Namun, sejumlah analis memprediksi tekanan tersebut mulai mereda pada April 2026.

Baca Juga: Menyusul Wacana Pelebaran Defisit APBN, Indef Sampaikan Strategi Jitu Jaga Ketahanan Ekonomi di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Sementara itu, nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan. Pada akhir pekan lalu, rupiah ditutup di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar AS.

 Tekanan terhadap mata uang domestik ini dipengaruhi berbagai faktor eksternal, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Analis memperkirakan volatilitas rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek.

Kendati demikian, sikap kebijakan moneter yang cenderung ketat dari Bank Indonesia berpotensi memberikan ruang penguatan sementara bagi rupiah.

Di sisi lain, pemerintah tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.

 Produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I 2026 diproyeksikan tumbuh sekitar 5,5 hingga 6 persen, didorong oleh percepatan belanja negara yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp800 triliun serta kuatnya konsumsi rumah tangga.

Baca Juga: Jelang Lebaran, ASDP Pakai Strategi Ini untuk Urai Kepadatan di Pelabuhan Gilimanuk Bali

Fundamental ekonomi domestik juga dinilai masih solid. Hal ini tercermin dari neraca perdagangan yang tetap mencatat surplus, serta defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dijaga di bawah 3 persen terhadap PDB.

Namun demikian, sejumlah risiko eksternal tetap perlu diwaspadai. Eskalasi konflik geopolitik global berpotensi meningkatkan tekanan pada anggaran subsidi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).

Di sisi lain, indikator positif datang dari meningkatnya penjualan kendaraan bermotor yang menunjukkan daya beli masyarakat masih terjaga.

Para pelaku pasar kini menantikan hasil RDG Bank Indonesia sebagai sinyal arah kebijakan moneter selanjutnya, sekaligus indikator penting bagi stabilitas ekonomi Indonesia dalam jangka pendek.(rak) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#indikator positif #bi rate #ekonomi global #rapat dewan gubernur (rdg) bank indonesia