RADAR SURABAYA – Menjelang Hari Raya Idulfitri 2026, Perum Bulog Jawa Timur mencatat sejumlah capaian penting dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan.
Hingga pertengahan Maret 2026, serapan gabah dan beras di Jawa Timur telah mencapai sekitar 588 ribu ton gabah kering panen (GKP) atau setara 300 ribu ton beras.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho, mengatakan capaian tersebut merupakan yang tertinggi secara nasional.
Kontribusi Jawa Timur bahkan mencapai sekitar 32 persen dari total serapan nasional yang mencapai 1,818 juta ton GKP atau setara 950 ribu ton beras.
“Capaian ini merupakan yang tertinggi di seluruh Indonesia. Jawa Timur menyumbang sekitar 32 persen dari total serapan nasional,” kata Langgeng, Sabtu (14/3).
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari sinergi berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dinas Pertanian melalui para penyuluh pertanian, TNI melalui Babinsa, Polri melalui Bhabinkamtibmas, hingga mitra penggilingan padi serta Tim Jemput Pangan (TJP) Bulog.
Langgeng menjelaskan, saat ini Bulog aktif melakukan pembelian langsung gabah dari petani melalui Tim Jemput Pangan.
Gabah kering panen dibeli dengan harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kilogram untuk kondisi gabah yang sudah dipanen dan dikemas dalam karung di pinggir jalan.
“Kami sering menyampaikan kepada petani bahwa Bulog siap membeli langsung GKP dengan harga Rp 6.500 per kilogram. Petani yang sedang panen bisa menghubungi Tim Jemput Pangan di daerah masing-masing, atau melalui Babinsa maupun penyuluh pertanian di desa,” jelasnya.
Untuk meningkatkan keamanan transaksi, Bulog juga mendorong sistem pembayaran non-tunai atau transfer langsung ke rekening petani.
Langkah ini dilakukan untuk menghindari peredaran uang palsu yang kerap meningkat menjelang hari raya.
“Pembayaran secara cashless lebih aman dan meminimalkan risiko uang palsu. Selain itu, Tim Jemput Pangan tetap standby selama masa cuti Lebaran untuk memastikan serapan gabah tetap berjalan,” tambahnya.
Selain beras, Bulog Jatim juga mencatat capaian tinggi dalam serapan jagung pipil kering (JPK). Hingga saat ini, Bulog telah menyerap 40.796 ton jagung atau sekitar 40 persen dari target 100 ribu ton hingga akhir tahun.
Jagung tersebut dibeli dengan harga Rp 6.400 per kilogram untuk kadar air maksimal 14 persen di gudang Bulog.
Langgeng mengatakan, serapan jagung ini juga didukung penuh oleh jajaran Polda Jawa Timur melalui seluruh Polres di daerah.
Salah satunya dengan pemanfaatan gudang jagung milik Polri di Desa Pacing, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.
“Serapan jagung ini nantinya digunakan untuk program stabilisasi harga jagung pakan ternak melalui program SPHP jagung. Tujuannya menjaga stabilitas harga pakan yang berdampak pada harga telur dan daging ayam,” ujarnya.
Di sisi lain, Bulog Jatim juga memastikan stabilitas harga bahan pokok selama Ramadan.
Hal ini didukung oleh berbagai program penyaluran pangan ke masyarakat.
Sejak Januari 2026, Bulog Jawa Timur telah menyalurkan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 42 ribu ton.
Selain itu, Bulog juga menyalurkan minyak goreng Minyakita sebanyak 9 juta liter ke pasar.
Penyaluran dilakukan melalui berbagai saluran, mulai dari Gerakan Pangan Murah (GPM), kerja sama dengan TNI-Polri, pemerintah daerah, BUMN/BUMD, hingga pasar-pasar tradisional dan Rumah Pangan Kita (RPK).
“Selama Ramadan harga beras dan minyak goreng relatif stabil. Ini berkat kerja sama berbagai pihak seperti Bapanas, Kementerian Pertanian, Polri, Pemprov Jatim, dan Bulog,” jelasnya.
Bulog Jatim juga memastikan ketersediaan stok pangan menjelang Lebaran dalam kondisi aman.
Saat ini stok beras di Jawa Timur mencapai sekitar 1 juta ton, sementara stok minyak goreng Minyakita sekitar 2,1 juta liter.
“Dengan stok tersebut, kami pastikan kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran dapat terpenuhi dengan baik,” pungkas Langgeng. (mus)
Editor : Nofilawati Anisa