Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bagaimana Dampak Perang Israel-Amerika dengan Iran terhadap Ekonomi Jatim? Ini Pendapat Ekonom

Mus Purmadani • Selasa, 3 Maret 2026 | 12:04 WIB

Konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran sedikit banyak akan berdampak pada perekonomian global.
Konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran sedikit banyak akan berdampak pada perekonomian global.

RADAR SURABAYA – Ekonom dari Universitas Airlangga, Imron Mawardi, menilai dampak konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran terhadap perekonomian Jawa Timur masih relatif terkendali, selama situasi tidak berlangsung berkepanjangan dan tidak mengganggu jalur distribusi energi global.

Menurut Imron, struktur ekonomi Jawa Timur memiliki ketahanan yang cukup baik karena ditopang oleh konsumsi domestik dan perdagangan antarwilayah.

“Kalau terdampak ya mungkin ada dampak, tetapi tidak terlalu besar. Ekonomi Jawa Timur itu disumbang cukup besar dari konsumsi. Selain itu, perdagangan kita sangat ditopang transaksi antar pulau, terutama ke Indonesia Timur,” ujar dosen Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair, Senin (2/3).

Imron menjelaskan, ekspor Jawa Timur memang cukup besar, namun komoditas utamanya bukan energi, melainkan emas dan perhiasan yang banyak diekspor ke Swiss, kemudian furnitur, serta komoditas pertanian seperti kopi dan kakao.

Dengan struktur tersebut, dampak langsung konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap Jawa Timur dinilai tidak terlalu signifikan dalam jangka pendek.

Ia memperkirakanpertumbuhan ekonomi Jatim masih berada dalam kisaran proyeksi 4,9 hingga 5,7 persen, sepanjang situasi global tetap terkendali.

Namun demikian, risiko akan meningkat jika konflik meluas dan berdampak pada penutupan Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu titik vital distribusi energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Menurutnya jika jalur tersebut terganggu, maka harga minyak dunia berpotensi melonjak tajam. Apalagi sebagian besar negara anggota OPEC berada di kawasan Timur Tengah yang distribusi energinya melewati selat tersebut.

“Kenaikan harga minyak dunia itu sangat mungkin terjadi jika konflik berkepanjangan dan distribusi terganggu. Dampaknya nanti akan merembet ke dalam negeri,” jelasnya.

Imron menambahkan, dampak terhadap perekonomian domestik akan sangat tergantung pada respon pemerintah.

Jika kenaikan harga minyak dunia memicu penyesuaian harga BBM subsidi karena keterbatasan anggaran, maka tekanan terhadap inflasi bisa meningkat.

Saat ini, penyesuaian harga BBM non-subsidi yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) memang mengikuti tren harga rata-rata minyak dunia beberapa waktu sebelumnya.

“Penyesuaian itu bukan langsung harga hari ini, tapi rata-rata periode sebelumnya. Karena memang trennya sempat naik,” ujarnya.

Ia mengingatkan, harga BBM jenis Dex pernah turun ke kisaran Rp 13.500 per liter, namun sebelumnya juga sempat menyentuh angka di atas Rp 15.000 bahkan Rp 17.000 per liter. "Artinya, fluktuasi sangat mungkin kembali terjadi jika harga minyak global terus meningkat," tuturnya.

Di sisi lain, terkait kebijakan impor beras dari Amerika Serikat di tengah program swasembada pangan, Imron meminta pemerintah berhitung cermat.

Menurutnya, saat ini stok beras nasional yang dikelola Perum Bulog justru berada pada level tertinggi sepanjang sejarah, yakni sekitar 3,5 juta ton.

Meski demikian, Bulog tidak serta-merta bisa melepas stok ke pasar karena terikat mekanisme harga. Jika harga belum melampaui batas tertentu, operasi pasar tidak dilakukan.

Kenaikan harga gabah juga menjadi faktor yang mendorong harga beras tetap tinggi. Saat ini harga pembelian pemerintah (HPP) gabah ditetapkan Rp 6.500 per kilogram, naik signifikan dibanding sebelumnya yang berada di kisaran Rp4.200–Rp 4.500 per kilogram.

“Karena HPP naik, Bulog membeli gabah di harga Rp6.500. Ini tentu akan mengerek harga beras di pasar. Jadi meskipun stok banyak, harga relatif tetap tinggi,” terangnya.

Ia menambahkan, di beberapa daerah harga beras bahkan sudah mendekati atau menyentuh Harga Eceran Tertinggi (HET).

Secara keseluruhan, Imron menilai ekonomi Jawa Timur masih cukup resilien menghadapi gejolak global.

Namun kewaspadaan tetap diperlukan, terutama terhadap potensi lonjakan harga energi yang dapat memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

“Sepanjang konflik tidak sampai mengganggu distribusi energi global secara serius, dampaknya tidak terlalu besar. Tapi kalau sampai ke sana, tentu efeknya bisa cukup signifikan,” pungkasnya. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#amerika serikat #Israel #iran #Jawa Timur #perdagangan #konflik timur tengah #Perekonomian