Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Begini Strategi Disperindag Jatim Jaga Stabilitas Harga dan Pasokan Kedelai

Mus Purmadani • Rabu, 28 Januari 2026 | 07:27 WIB

 

TURUN: Impor kedelai Jatim pada 2025 turun, hal ini untuk memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe.
TURUN: Impor kedelai Jatim pada 2025 turun, hal ini untuk memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe.

RADAR SURABAYA - Ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai masih tergolong tinggi.

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur, Lucky Kristian, menyebut sekitar 80–90 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor, terutama dari Amerika Serikat.

“Kedelai impor tersebut mayoritas digunakan sebagai bahan baku utama industri tahu dan tempe,” kata Lucky kepada Radar Surabaya, Selasa (27/1/2026).

Meski demikian, Lucky mengungkapkan bahwa sepanjang Januari - Oktober 2025 terjadi penurunan volume impor kedelai sebesar 20,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan impor tersebut dipengaruhi oleh kondisi harga global yang tidak stabil.

“Penurunan volume impor ini dipicu oleh fluktuasi harga kedelai dunia akibat perang tarif antara Amerika Serikat dan China,” jelasnya.

Di tengah turunnya impor, Jawa Timur justru mencatatkan peningkatan kinerja ekspor kedelai.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, ekspor kedelai pada periode Januari–Oktober 2025 mengalami kenaikan sekitar 30,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

“Negara tujuan utama ekspor kedelai dari Jawa Timur adalah Timor Leste,” ungkap Lucky.

Memasuki awal tahun 2026, Lucky menambahkan bahwa harga kedelai internasional tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,42 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh optimisme pasar bahwa China akan terus mengimpor kedelai dari Amerika Serikat.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa dari sisi pasokan global, kondisi sebenarnya cukup aman.

“Pasokan kedelai dunia pada awal 2026 ini relatif melimpah karena adanya panen raya di kawasan Amerika Latin,” ujarnya.

Menurut Lucky, kenaikan harga kedelai di dalam negeri lebih besar disebabkan oleh melemahnya nilai tukar rupiah, sehingga berdampak pada meningkatnya harga kedelai impor.

Meski begitu, hasil pemantauan harga di Jawa Timur menunjukkan kondisi yang relatif terkendali.

“Berdasarkan pemantauan harga melalui panel harga, SP2KP, dan Siskaperbapo serta perbandingan dengan harga kedelai global, harga kedelai bulan ini justru relatif lebih rendah dibandingkan bulan yang sama tahun lalu,” jelasnya.

Ia merinci, harga kedelai lokal tercatat turun sebesar 0,12 persen, sementara kedelai impor turun 0,84 persen.

Data Siskaperbapo Jawa Timur menunjukkan, harga kedelai lokal di tingkat konsumen pada 25 Desember 2025 sebesar Rp 13.047 per kilogram, kemudian turun menjadi Rp 12.937 per kilogram pada 24 Januari 2026, atau turun sekitar Rp 15 per kilogram.

Sementara itu, harga kedelai impor turun dari Rp 12.553 per kilogram pada 25 Desember 2025 menjadi Rp 12.538 per kilogram pada 24 Januari 2026, atau turun sekitar Rp 110 per kilogram.

Untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan ke depan, Disperindag Jawa Timur akan terus melakukan langkah pengawasan.

“Kami akan melakukan pengawasan terkait ketersediaan stok, harga, serta kelancaran distribusi kedelai di daerah-daerah agar stabilitas harga tetap terjaga,” pungkas Lucky. (mus/gun)

Editor : Nofilawati Anisa
#amerika serikat #impor kedelai #harga kedelai #kedelai impor #disperindag jatim #kebutuhan kedelai