RADAR SURABAYA - Di tengah geliat industri kreatif berbasis keberlanjutan, nama Namira Ecoprint kian melekat sebagai salah satu pionir ecoprint di Surabaya. Di tangan Yayuk Eko Agustin, ecoprint tak lagi sekadar kain bermotif daun, melainkan karya fashion bernilai seni tinggi yang terus berevolusi mengikuti tren global. “Fashion itu harus bergerak. Kalau diam, ya ditinggal pasar,” ujar Yayuk.
Awal Januari 2026, Namira Ecoprint dijadwalkan tampil dalam fashion show di kawasan G-Walk Surabaya. Ajang ini menjadi panggung bagi Yayuk untuk menampilkan kolaborasi terbarunya: perpaduan ecoprint alam dengan tenun Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sama-sama menggunakan pewarna alami. “Tenun NTT itu luar biasa. Handmade, satu kain bisa sebulan jadi. Kita padukan dengan ecoprint supaya tampil lebih segar tapi tetap menjaga ruh tradisinya,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, Namira Ecoprint juga mulai mengeksplorasi kolaborasi lintas daerah. Dari tenun gedog Tuban, bordir Bangil dan Malang, hingga material burl yang memberi sentuhan berbeda pada koleksi ecoprint. “Biar orang tidak bosan. Sekarang tren 2026 itu motif kotak-kotak. Kita jawab pakai ecoprint daun pisang dengan warna-warna berani, merah kecoklatan, hijau, lebih ‘jreng’,” katanya.
Keberanian memadukan warna dan motif menjadi ciri khas Yayuk. Biru ditabrakkan dengan merah, ecoprint dipadukan bordir, tenun tradisional disandingkan desain modern. “Kalau orang sudah mulai komentar, artinya mereka memperhatikan. Itu tandanya produk kita hidup,” ujarnya sambil tersenyum.
Saat ini, selain mengelola dapur MBG Nikmat Barokah, Yayuk telah memiliki tiga lini usaha yang berjalan paralel, salah satunya Namira Ecoprint. Target omzet tahun ini pun terbilang ambisius, menandakan bahwa ecoprint bukan lagi sekadar hobi pasca-pensiun, melainkan bisnis serius dengan pasar nasional.
Produk-produk Namira Ecoprint bahkan telah menembus pasar luar kota hingga mancanegara. Keunikan desain handmade, teknik manual (bukan digital printing), serta filosofi “dari kain putih menjadi karya” menjadi nilai jual utama. “Kalau orang lain beli bahan, saya mulai dari nol. Dari kain putih, diolah, dipikirkan motifnya, warnanya, ceritanya,” tegasnya.
Dalam proses kreatifnya, Yayuk juga menerapkan prinsip ATM: Amati, Tiru, Modifikasi, sembari aktif mentransfer pengetahuan desain kepada timnya. Ia percaya, bisnis kreatif harus tumbuh bersama sumber daya manusianya.
Menariknya, kesuksesan Namira Ecoprint juga menarik perhatian berbagai pihak, termasuk perbankan. Yayuk kerap menjadi rujukan dan motivator bagi calon pensiunan yang ingin membangun usaha kreatif. “Mereka lihat saya bangkit setelah pensiun, keluar dari zona nyaman, dan bisa produktif lagi. Itu yang ingin saya tularkan,” katanya.
Ke depan, Namira Ecoprint akan terus memperluas kolaborasi dengan produk lokal dari berbagai daerah, dengan satu benang merah: warna alam, identitas budaya, dan inovasi tanpa henti. “Yang penting bukan hanya laku, tapi juga punya karakter. Ecoprint itu soal rasa, soal kesabaran, dan soal keberanian berbeda,” pungkas Yayuk. (dim/opi)
Editor : Guntur Irianto