RADAR SURABAYA – Penguatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi tema sentral Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Indonesia Marketing Association tahun 2025 yang dihelat di Surabaya, 5 hingga 7 Desember 2025.
President IMA Suparno Djasmin mengatakan, rakernas tahun ini mengusung tema Rising and Collaborating for a Stronger Economy.
Tema ini mencerminkan semangat kolaborasi antara IMA dan pemerintah dalam memperkuat perekonomian nasional, khususnya melalui pemberdayaan UMKM.
"Rakernas tahun ini menempatkan penguatan UMKM sebagai fokus utama, mengingat perannya yang domina dalam struktur ekonomi Indonesia,” ungkap Suparno saat membuka Rakernas di Surabaya, Sabtu (6/12).
Suparno menjelaskan, UMKM tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Kontribusinya terhadap Product Domestic Bruto (PDB) mencapai 61 persen.
“UMKM mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 117 juta orang atau 97 persen dari total tenaga kerja kita. Ini angka yang luar biasa,” lanjutnya.
Lenih jauh ia menjelaskan, dari 64 juta UMKM yang ada di Indonesia, baru 15,8 persen yang sudah masuk pasar ekspor. “Dari jumlah itu, 75 persennya UMK menengah,” sambungnya.
Diakui Suparno, UMKM Indonesia masih menghadapi setidaknya empat masalah klasik.
Pertama, soal permodalan. Lalu, regulasi, disusul market yang kian kompetitif dan teknologi.
“IMA aktif berperan dalam upaya mengurai persoalan itu. Tentu saja persoalan yang seusai dengan bidang kami, yaitu marketing dan penjualan,” ungkapnya.
Salah satu peran aktif yang dilakukan IMA, kata Supatrno, adalah dihadirkannya UMKM & Tourism Award.
Sejak dihelat kali pertama di tahun 2023, hingga saat ini kegiatan terkait sudah melibatkan 1.800 UMKM dari seluruh Indonesia. Tepatnya dari 103 chapter IMA.
Dalam kesempatan yang sama, President IMA Chapter Surabaya Yusuf Wiharto mengatakan, UMKM telah terbukti menjadi pondasi kuat yang menyelamatkan perekonomian nasional dari keterpurukan.
Salah satu fakta nyata peran UMKM adalah ketika Indonesia dihantam badai pandemi Covid-19.
“Peran UMKM saat Covid-19 sangat luar biasa. Mereka yang menjaga perekonomian kita,” ujarnya.
Yusuf menambahkan, ketergantungan negeri ini pada UMKM sangat besar.
Untuk itu IMA turut serta mengajak pelaku UMKM untuk naik kelas menjadi industri. “UMKM harus bisa melakukan upgrading. Lalu, UMKM yang sebelumnya informal bisa naik menjadi formal,” jelasnya.
Sementara itu, Asisten Deputi Perluasan Pasar Kementerian UMKM, Harun Adama Sume, menyebut penguatan UMKM menjadi prioritas menuju target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.
Saat ini pemerintah sedang memperbaiki ekosistem usaha mulai dari akses pembiayaan — termasuk KUR tanpa agunan hingga Rp 100 juta — peningkatan kapasitas SDM, sertifikasi standar global, hingga ekspansi pasar dalam dan luar negeri.
Harun juga memaparkan kehadiran Super Apps Sapa UMKM, platform terpadu untuk validasi data dan berbagai layanan usaha.
Aplikasi ini memungkinkan pelaku UMKM mengakses pembiayaan, pendampingan, hingga integrasi lintas sektor dalam satu pintu.
“Pemerintah turut mendorong model ekosistem holding UMKM berbasis klaster yang menghubungkan usaha mikro, kecil, dan menengah dalam rantai produksi yang lebih kuat,” ujarnya.
“Potensi besar sektor pariwisata yang sepanjang 2024 mencatat 25,01 juta perjalanan wisata. Peringkat Indonesia dalam Travel and Tourism Development Index juga naik ke posisi 22 dunia, membuka peluang UMKM berkembang di sektor kuliner, transportasi, budaya, dan ekonomi kreatif,” kata Harun. (opi)
Editor : Nofilawati Anisa