RADAR SURABAYA – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus mendorong efektivitas penanganan bank dan persiapan program penjaminan polis asuransi.
Kepala Kantor Perwakilan LPS II, Bambang S. Hidayat, mengatakan, sepanjang 2024-2025, secara nasional terdapat 26 BPR/BPRS yang masuk dalam penanganan LPS.
Rinciannya adalah 23 BPR/BPRS dilikuidasi, satu BPR diselamatkan melalui skema bail-in, dan dua BPR/BPRS dalam proses penanganan.
“Pada tahun 2025, terdapat satu BPR yang dicabut izin usahanya oleh OJK dan dilikuidasi oleh LPS di Provinsi Jawa Timur,” ungkap Bambang dalam temu media yang mengangkat tema “Sinergi dan Kolaborasi untuk Menjaga Stabilitas, Mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur, serta Mendorong Pemerataan Pembangunan di Tengah Momentum Penguatan Kebijakan Ekonomi Nasional dan Ekonomi Kerakyatan” di Surabaya, Selasa (18/11).
Bambang melanjutkan, LPS terus mengawal pelaksanaan kebijakan penjaminan simpanan berjalan efektif dalam menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mendukung Stabilitas Sistem Keuangan.
“Hingga September 2025, cakupan penjaminan simpanan LPS secara nasional tetap di atas 90 persen dari total rekening perbankan nasional,” lanjutnya.
Rinciannya masing-masing mencapai 662 juta rekening bank umum (99,94 persen) dan 15,8 Juta rekening BPR/BPRS (99,97 persen).
“Cakupan penjaminan LPS di Provinsi Jawa Timur tercatat sebesar 75,02 juta dari total rekening bank umum (99,95 persen) dan 2,46 juta dari rekening BPR/BPRS (99,97 persen),” ungkap Bambang.
Meskipun demikian, rata-rata suku bunga simpanan perbankan masih berada di atas TBP.
Proporsi nasabah yang mendapatkan suku bunga simpanan di atas TBP meningkat dari sekitar 13 persen pada 2022 menjadi 32 persen pada September 2025.
“LPS bersama lembaga anggota KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) lainnya mendorong perbankan untuk menyesuaikan suku bunga simpanan ke tingkat yang wajar,” ujarnya.
Bambang menambahkan, LPS juga terus berperan aktif dalam memperluas basis masyarakat menabung.
Berdasarkan data LPS, jumlah penduduk Indonesia yang belum memiliki rekening simpanan mencapai sekitar 51 juta orang atau 19,9 persen dari populasi penduduk usia 5–74 tahun.
“LPS bersama dengan lembaga anggota KSSK lainnya berperan aktif dalam memperluas basis masyarakat menabung melalui peningkatan literasi dan inklusi keuangan,” pungkasnya.
Temu media yang dihelat di Restoran Mahameru tersebut juga menghadirkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim Ibrahim, Kepala OJK Provinsi Jatim Yunita Linda Sari, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Jawa Timur sekaligus Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Jawa Timur, Dudung Rudi Hendratna, dan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur, Saiful Islam. (opi)
Editor : Nofilawati Anisa