Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mungkinkah Sejarah Berulang? Trader Bitcoin Antisipasi Reli Saat Kesepakatan Shutdown AS

Nurista Purnamasari • Jumat, 14 November 2025 | 01:02 WIB
Photo
Photo

RADAR SURABAYA - Setelah lebih dari 40 hari kebuntuan politik di Washington, tanda-tanda berakhirnya penutupan pemerintahan (shutdown) Amerika Serikat mulai terlihat.

Para trader crypto kini kembali bertanya mungkinkah sejarah akan berulang seperti tahun 2019, ketika Bitcoin reli lebih dari 300, setelah shutdown berakhir?.

Kondisi pasar saat ini menunjukkan lonjakan optimisme di kalangan pelaku pasar. Bitcoin (BTC) naik hampir 3% dalam satu jam terakhir dan diperdagangkan di kisaran USD 104.501 pada Senin pagi.

Para analis dan trader mengamati perubahan sentimen pasar melalui fear and greed index BTC yang saat ini bergerak dari zona fear menuju neutral, menandakan potensi kembalinya minat beli di pasar aset digital.

Bagi investor ritel yang baru memasuki pasar, momentum seperti ini sering kali menjadi sinyal awal untuk mencari tahu beli Bitcoin dimana dengan cara paling aman dan efisien, terutama di tengah sentimen positif yang sedang terbentuk menjelang kesepakatan politik besar di AS.

Terdapat beberapa aplikasi crypto yang telah teregulasi di Indonesia, salah satunya Pintu yang menyediakan fitur terlengkap, biaya trading rendah, serta variasi token yang banyak lebih dari 320+ token sehingga cocok untuk investor pemula maupun trader aktif dan profesional.

Shutdown Terlama dalam Sejarah AS: Faktor Pemicu Perubahan Sentimen Global

Penutupan pemerintah kali ini tercatat sebagai yang terlama dalam sejarah, melampaui rekor shutdown 2018–2019 yang berlangsung selama 35 hari.

Sekitar 750.000 pekerja federal dirumahkan, sementara layanan publik seperti transportasi udara dan taman nasional lumpuh.

Menurut laporan dari media keuangan utama, Senat Demokrat dan Partai Republik dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal untuk melanjutkan pengesahan RUU pengeluaran sementara.

Rencana ini akan membuka kembali pemerintahan hingga 30 Januari, memberikan waktu bagi pemerintah untuk menegosiasikan anggaran baru tanpa menimbulkan krisis fiskal jangka panjang.

Ketika kabar ini mencuat, pasar aset berisiko termasuk crypto langsung bereaksi. Dalam satu jam setelah laporan tersebut dirilis, volume perdagangan Bitcoin di bursa utama melonjak hingga 14%, menandakan antusiasme trader terhadap potensi relief rally yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Trader Ingat Reli Besar Setelah Shutdown Tahun 2019

Fenomena ini mengingatkan banyak trader pada apa yang terjadi enam tahun lalu. Setelah shutdown berakhir pada Januari 2019, Bitcoin yang semula stagnan di kisaran USD 3.600 mulai merangkak naik dan menembus USD 5.000 dalam waktu lima bulan, mencatat kenaikan lebih dari 300%.

Sementara itu, Max Crypto menyebutkan pola serupa dalam data historis, saat tekanan fiskal AS berakhir, pasar crypto biasanya menunjukkan reaksi positif jangka pendek.

Meski begitu, beberapa analis memperingatkan bahwa korelasi antara kebijakan fiskal dan harga Bitcoin belum tentu kausal, melainkan kebetulan yang diperkuat oleh sentimen pasar.

Katalis Sentimen: Dari Politik ke Psikologi Pasar

Hubungan antara peristiwa politik besar dan harga Bitcoin sering kali berakar pada perubahan psikologis investor.

Ketika ketidakpastian fiskal meningkat, investor cenderung mencari aset alternatif yang bebas dari pengaruh pemerintah dan Bitcoin menjadi pilihan utama.

Saat ini, fear and greed index BTC menunjukkan pergeseran dari skor 37 (fear) ke 51 (neutral). Perubahan ini menandakan pasar mulai bertransisi dari ketakutan menuju optimisme hati-hati.

Secara historis, pergerakan menuju zona greed sering kali menjadi pertanda awal dimulainya tren naik.
Beberapa indikator teknikal pun mendukung pandangan tersebut. TradingView melihat Bitcoin baru saja menembus resistance jangka pendek di USD 103.800, didorong oleh peningkatan volume beli.

Moving Average (MA 50) juga mulai menanjak, sementara RSI (Relative Strength Index) berada di level 62.

Dengan likuiditas global yang masih ketat dan kebijakan Federal Reserve yang tetap hati-hati, kenaikan Bitcoin kali ini kemungkinan akan lebih terukur dibandingkan reli 2019.

Namun, bila tekanan politik di AS benar-benar mereda, sentimen positif dapat menjadi pemicu reli jangka menengah.

Shutdown sebagai Pemicu Psikologis untuk Reli Crypto

Banyak trader percaya bahwa peristiwa seperti penutupan pemerintahan AS berfungsi sebagai shock event, yakni momen yang mengubah persepsi risiko investor.

Ketika pasar saham goyah akibat kebijakan fiskal yang tidak menentu, investor sering mengalihkan sebagian modal ke aset yang dianggap non-korelasi, seperti Bitcoin dan emas digital lainnya.

Selama shutdown 2019, Bitcoin sempat anjlok hingga USD 3.600, tetapi langsung memantul saat kesepakatan dicapai.

Lonjakan tujuh candle hijau berturut-turut di grafik mingguan menandai titik balik penting yang membuka siklus bullish hingga paruh kedua tahun tersebut.

Jika pola ini kembali terulang, maka skenario yang paling mungkin adalah rally relief ke area USD 110.000–USD 115.000 sebelum Bitcoin menghadapi konsolidasi lanjutan.

Dukungan teknikal kuat tampak di kisaran USD 100.000–USD 101.500, sementara area USD 106.000 – USD 107.000 menjadi resistance penting yang perlu ditembus untuk melanjutkan momentum naik.

Analisis Fundamental: Ketika Politik dan Likuiditas Bertemu Crypto

Secara fundamental, pemulihan Bitcoin kali ini tidak semata-mata karena shutdown, melainkan karena kombinasi faktor makroekonomi.

Data terbaru menunjukkan inflasi AS mulai melambat, sementara investor mulai memprediksi penurunan suku bunga The Fed pada kuartal pertama 2026.

Selain itu, minat institusional terhadap Bitcoin terus meningkat setelah beberapa perusahaan keuangan besar seperti BlackRock dan Fidelity memperluas eksposur mereka melalui produk ETF crypto.

Arah kebijakan fiskal yang lebih stabil di AS bisa memperkuat kepercayaan investor terhadap aset berisiko tinggi seperti Bitcoin.

Menurut analis di Pintu Market Insight, reli Bitcoin kali ini akan sangat ditentukan oleh arus dana besar yang kembali masuk dari investor global.

Trader Waspadai Reli Emosional dan False Breakout

Meski optimisme mulai tumbuh, trader disarankan tetap berhati-hati terhadap potensi false breakout.
Banyak analis memperingatkan bahwa reli mendadak akibat berita politik sering kali diikuti oleh koreksi cepat ketika pasar mencerna data ekonomi yang lebih realistis.

Secara teknikal, candle mingguan Bitcoin masih berada dalam pola ascending triangle, yang berarti tren naik jangka panjang tetap utuh selama harga tidak menembus di bawah USD 98.500.

Namun, volatilitas tinggi diperkirakan terjadi menjelang keputusan resmi dari Senat AS malam ini. Trader jangka pendek disarankan menggunakan pendekatan berbasis data seperti on-chain metrics dan analisis volume untuk menghindari keputusan emosional.

Sementara investor jangka panjang bisa memanfaatkan fase ketidakpastian ini untuk melakukan akumulasi bertahap sebelum momentum bullish.

Shutdown AS Bisa Jadi Titik Balik Sentimen Pasar

Dengan kesepakatan politik yang semakin dekat, pasar crypto tampaknya kembali bersiap menghadapi potensi reli.

Meskipun efek shutdown terhadap harga Bitcoin mungkin tidak langsung terlihat, faktor psikologis dan perubahan sentimen jelas memainkan peran penting dalam pergerakan jangka pendek.

Jika pola tahun 2019 kembali terulang, Bitcoin berpotensi mencatat reli bertahap menuju level psikologis USD 120.000 pada akhir kuartal pertama 2026.

Namun, investor tetap disarankan untuk memantau indikator utama seperti fear and greed index BTC, serta memastikan mereka melakukan riset.

Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif.

Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi.

Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor. (*)

Editor : Nurista Purnamasari
#bitcoin #Investasi #shutdown as #pelaku pasar #pintu #Investor #crypto #trader