RADAR SURABAYA – Dampak anomali cuaca berupa kemarau basah pada musim tanam tembakau tahun 2025 menjadi tantangan serius bagi para petani tembakau di Jawa Timur.
Curah hujan yang tinggi pada periode yang seharusnya kering menyebabkan kerusakan tanaman, meningkatnya serangan hama dan penyakit, serta menurunnya kualitas daun tembakau akibat kadar air yang tinggi.
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jawa Timur mengambil langkah-langkah strategis untuk membantu petani mengatasi dampak cuaca ekstrem yang mengganggu proses budidaya dan panen.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur Ir. Dydik Rudy Prasetya, MMA menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan buffer stock sarana pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) untuk membantu petani melakukan pengendalian hama secara cepat apabila terjadi serangan akibat anomali cuaca.
Selain itu, Disbun Jatim juga menggelar pelatihan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT) bagi petani di daerah sentra tembakau.
"Tujuannya agar petani mampu melakukan tindakan pengendalian secara mandiri dan tepat sasaran, sehingga kerusakan akibat serangan OPT dapat diminimalisir," ujarnya, Minggu (12/10).
Upaya peningkatan produksi tembakau Jatim difokuskan pada peningkatan kualitas dan efisiensi budidaya.
Melalui Program Peningkatan Kualitas Bahan Baku (PKBB)yang bersumber dari DBHCHT, Disbun Jatim menyalurkan bantuan pupuk ZA, ZK, dan KNO, serta sarana produksi seperti bibit, pestisida, dan pupuk pendukung lainnya.
Rudy menambahkan Disbun juga mendorong petani untuk menerapkan Good Agricultural Practice (GAP) dan Good Handling Practice (GHP) melalui kegiatan demplot inovasi pengembangan varietas tembakau unggul.
Tidak hanya itu, peningkatan kapasitas petani muda dilakukan lewat pelatihan budidaya tembakau ramah lingkungan bekerja sama dengan Universitas Brawijaya, BRMP-TAS, dan BMKG Karangploso.
Terkait potensi tembakau petani yang tidak terserap industri, Disbun Jatim sejak awal musim tanam telah berkoordinasi dengan BMKG Karangploso untuk menyebarluaskan informasi iklim dasarian, prakiraan cuaca, serta awal musim tanam.
Informasi ini dapat diakses petani melalui laman [staklim-jatim.bmkg.go.id] atau (https://staklim-jatim.bmkg.go.id/).
“Kami juga mengimbau petani untuk membatasi luas areal tanam dan lebih fokus pada peningkatan produktivitas serta kualitas. Selain itu, petani diharapkan bermitra dengan Industri Hasil Tembakau (IHT) agar mendapatkan pembinaan teknis, jaminan penyerapan hasil panen sesuai mutu yang diharapkan, serta kepastian harga yang wajar,” katanya.
Menanggapi penurunan harga tembakau akibat kualitas yang kurang baik, Rudy mengatakan Disbun Jatim memberikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti hand traktor, cultivator, pompa air, tandon air, dan mesin perajang tembakau.
Dukungan ini diharapkan dapat membantu petani menerapkan GAP dan GHP secara optimal sehingga kualitas daun tembakau meningkat.
“Harga tembakau sangat ditentukan oleh kualitasnya. Dengan dukungan sarana dan pelatihan yang tepat, kami berharap petani Jatim dapat menghasilkan tembakau berkualitas tinggi meskipun di tengah tantangan cuaca tidak menentu,” ujarnya.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perkebunan untuk melindungi petani tembakau dari dampak perubahan iklim, sekaligus menjaga keberlanjutan produksi dan daya saing tembakau Jatim di pasar nasional.
Diketahui data sementara produksi tembakau di Jawa Timur tahun 2025 secara keseluruhan hingga saat ini adalah 41.262,61 ton dengan luas lahan 30.340,98 hektare.
Situbondo menjadi daerah sementara penghasil tembakau terbanyak yakni 18.967.02 ton dengan luas lahan 10.961,540 hektare.
Disusul Probolinggo yakni 9.938,42 ton dengan luas lahan 7.411,00 hektare.
“Data ini sifatnya masih sementara karena sejumlah daerah belum panen raya. Yakni seperti Gresik, Blitar, Jember, Lamongan, Malang dan Mojokerto,” pungkasnya. (mus)
Editor : Nofilawati Anisa