Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Menelusuri Jejak Emas, Dari Alat Tukar Kuno hingga Aset Investasi Bernilai Tinggi

Muhammad Firman Syah • Selasa, 7 Oktober 2025 | 17:37 WIB
Ilustrasi penambangan emas di masa kuno.
Ilustrasi penambangan emas di masa kuno.

Radar Surabaya — Sejak ribuan tahun silam, emas telah menjadi simbol kekayaan, alat tukar, hingga sarana investasi yang abadi nilainya. Logam mulia ini tidak hanya berfungsi sebagai perhiasan, tetapi juga mencerminkan kekuasaan, status sosial, dan stabilitas ekonomi lintas zaman.

Sejarah mencatat, emas pertama kali ditemukan oleh Kerajaan Lydia, wilayah yang kini dikenal sebagai Turki. Dalam berbagai mitologi seperti Yunani dan Inca, emas dianggap sebagai anugerah surgawi yang suci. Awalnya, logam berkilau ini digunakan untuk membuat perhiasan dan perlengkapan upacara keagamaan.

Bangsa Mesir menjadi salah satu yang pertama menggunakan emas sebagai alat tukar sekitar tahun 1.500 SM. Seiring waktu, emas menjadi rebutan dalam banyak peperangan besar dari bangsa Aztec dan Inca hingga kisah epik emas Troya di Yunani.

Kendati penemunya tidak diketahui pasti, aktivitas penambangan emas telah berlangsung sejak lebih dari 4.000 SM. Tambang-tambang awal biasanya berada di tepi sungai atau dataran rendah. Bangsa Yunani bahkan mengembangkan pertambangan primitif di Asia Kecil dan Makedonia.

Kemajuan besar terjadi pada masa Kekaisaran Romawi, yang memperkenalkan teknologi tambang hidrolik berbasis tenaga air. Mereka menggali gunung dan membangun terowongan bawah tanah demi memperoleh emas dalam jumlah besar. Teknologi ini terus digunakan hingga pertengahan abad ke-19, puncaknya saat demam emas California pada 1849.

Sekitar tahun 1800 SM, melalui jalur perdagangan, emas mulai menyebar ke Asia. Pedagang India dan Tiongkok menukarnya dengan sutra, rempah, dan hasil bumi, membuka jalan bagi tumbuhnya tambang-tambang emas di kawasan Timur.

Pada 3100 SM, Raja Menes dari Mesir menetapkan rasio nilai antara emas dan perak sebagai standar awal perdagangan,“Satu emas sama dengan dua perak, sementara satu perak sama dengan setengah emas.”

Inovasi penting terjadi sekitar 700 SM, ketika bangsa Lydia mencetak koin logam pertama yang mengandung 63 persen emas. Koin ini menjadi alat tukar resmi dan membawa kemakmuran bagi kerajaan tersebut. Pada masa kejayaan Yunani dan Romawi, koin emas dan perak mereka tersebar luas hingga Afrika Timur, Mesir, dan Inggris, menjadikannya alat pembayaran universal.

Memasuki era modern, terutama setelah Perang Dunia I, emas menjadi standar moneter internasional. Dolar Amerika Serikat ditetapkan sebagai acuan karena dapat ditukar langsung dengan emas. Namun, pasokan emas yang terbatas dan peningkatan uang kertas pascaperang memicu inflasi dan mengakhiri sistem ini.

Depresi ekonomi tahun 1929 mempercepat kejatuhan standar emas. Negara-negara yang meninggalkan sistem lebih awal justru pulih lebih cepat dari krisis. Setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat kembali memperkuat dominasinya melalui Perjanjian Bretton Woods 1944, yang menempatkan dolar AS dan emas sebagai basis transaksi global.

Kini, meski tak lagi menjadi alat tukar resmi, emas tetap memegang posisi strategis dalam ekonomi global. Nilainya yang stabil menjadikannya pilihan utama investasi dan pelindung kekayaan (hedging) di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Dari artefak kuno hingga pasar investasi modern, emas telah menempuh perjalanan panjang selama lebih dari enam milenium. Dari simbol kejayaan kerajaan hingga instrumen keuangan masa kini, logam mulia ini terus bersinar sebagai lambang kemakmuran yang tak lekang oleh waktu. (mel/fir)

Editor : M Firman Syah
#Penambang Emas #Investasi #emas #alat tukar #simbol kekayaan #sejarah