Radar Surabaya – Harga emas dunia (XAU/USD) kembali mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan sesi Amerika Utara. Penguatan sekitar 0,60 persen ini dipicu ekspektasi pasar terhadap sikap dovish Federal Reserve (The Fed) pasca rilis data inflasi Amerika Serikat. Logam mulia itu kini bertahan di level tinggi sekaligus memperkuat tren bullish yang sudah terbentuk sejak pekan lalu.
“Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan bahwa XAU/USD masih bergerak dalam tren positif. Jika tekanan bullish berlanjut, emas berpotensi menguji level USD3.875 dalam waktu dekat,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Lonjakan harga emas juga mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe-haven di tengah kekhawatiran penutupan sementara pemerintahan Amerika Serikat (government shutdown). Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menilai tren teknikal masih berpihak pada pergerakan harga emas.
Meski demikian, Andy mengingatkan potensi koreksi tetap terbuka.
“Apabila harga gagal mempertahankan momentum, area 3.806 dolar Amerika bisa menjadi target penurunan jangka pendek,” tambahnya.
Secara fundamental, pelemahan dolar AS akibat ketidakpastian politik turut memperkuat reli emas. Shutdown pemerintahan AS dikhawatirkan menghambat publikasi data ekonomi penting, termasuk laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) September dari Bureau of Labor Statistics (BLS). Bloomberg melaporkan, bila shutdown terjadi, publikasi data ekonomi akan tertunda, menciptakan kekosongan informasi yang biasanya menjadi acuan pasar dalam membaca arah kebijakan The Fed.
Sementara itu, pernyataan pejabat The Fed menunjukkan pandangan yang beragam. Alberto Musalem dari The Fed St. Louis menilai ekspektasi inflasi masih tinggi, meski pasar tenaga kerja mulai melemah. John Williams dari The Fed New York menyebut kebijakan moneter saat ini cukup restriktif untuk menekan inflasi, walau mengakui pasar tenaga kerja melemah. Senada, Beth Hammack dari The Fed Cleveland menegaskan inflasi masih di atas target dan belum bergerak sesuai harapan.
Selain faktor makroekonomi, ketegangan geopolitik juga menjadi pendorong sentimen positif bagi emas. Kementerian Pertahanan Rusia dilaporkan menguasai desa Shandryholove di wilayah Donetsk, Ukraina Timur, yang memicu kekhawatiran pasar atas eskalasi konflik.
“Ketidakpastian geopolitik biasanya meningkatkan aliran modal ke aset aman seperti emas, sehingga menambah momentum bullish,” jelas Andy Nugraha.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun turun tiga basis poin ke level 4,141 persen. Imbal hasil riil AS juga melemah ke 1,761 persen. Penurunan ini berkorelasi terbalik dengan harga emas dan memperkuat penguatan logam mulia.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data ekonomi penting dan pernyataan pejabat The Fed, antara lain laporan ketenagakerjaan versi ADP, indeks PMI Manufaktur ISM, klaim tunjangan pengangguran mingguan, serta NFP September. Dengan dukungan teknikal yang kuat, ketidakpastian politik domestik, dinamika geopolitik, dan tren penurunan imbal hasil obligasi, prospek harga emas jangka pendek diperkirakan tetap positif.
“Trader disarankan untuk mengantisipasi dua skenario: peluang kenaikan menuju 3.875 dolar Amerika jika tren bullish berlanjut, atau koreksi ke 3.806 dolsr Amrika bila sentimen dolar dan obligasi kembali menguat,” pungkas Andy Nugraha. (mel/fir)
Editor : M Firman Syah