Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kontribusi Ekspor Kopi Jawa Timur Mencapai 48 Persen dari Total Produksi Kopi Jawa

Mus Purmadani • Rabu, 27 Agustus 2025 | 15:10 WIB
KENIKMATAN KOPI: Event Java Coffee & Flavors Fest 2025 untuk menandai bahwa kopi sudah menjadi bagian dari sebuah gaya hidup.
KENIKMATAN KOPI: Event Java Coffee & Flavors Fest 2025 untuk menandai bahwa kopi sudah menjadi bagian dari sebuah gaya hidup.

RADAR SURABAYA -  Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan optimistis komoditas kopi dan kakao asal Jawa Timur makin luas  menembus pasar global. Hal itu ia sampaikan saat menutup perhelatan Java Coffee and Flavors Fest (JCFF) 2025 di kawasan Kota Lama Surabaya, Senin (25/8) malam.

“Jatim adalah salah satu produsen penting kopi dan kakao nasional. Dua komoditas ini tidak hanya menopang ekonomi petani, tetapi juga memperkuat daya saing daerah di pasar global,” ujar Khofifah.

Gubernur Khofifah menjelaskan, Jawa Timur masuk empat  besar produsen kopi nasional dengan luas areal 122.623 hektare dan produksi mencapai 78.688 ton dan berkontribusi pada ekspor kopi se Jawa. Produksi itu terbagi atas robusta yang berkembang di dataran menengah–rendah serta arabika yang tumbuh di dataran tinggi dan memiliki potensi premium untuk ekspor.

Beberapa sentra utama kopi Jatim di antaranya Bondowoso dengan Java Ijen Raung Coffee, Jember yang menjadi pusat penelitian kopi dan kakao (Puslitkoka), serta Malang, Pasuruan, Lumajang, Situbondo, dan Banyuwangi.

Selain kopi, kakao juga menjadi andalan perkebunan Jatim dengan areal 50.096 hektare dan produksi 23.599 ton. Sentra kakao tersebar di Blitar, Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Tulungagung, dan Malang Selatan. Sejumlah daerah bahkan telah mengembangkan hilirisasi menjadi produk olahan cokelat bernilai tambah.

Menurut Khofifah, JCFF merupakan strategic flagship event yang mempertemukan petani, UMKM, akademisi, dunia usaha, dan wisata heritage dalam satu ekosistem.

“JCFF adalah ruang kolaborasi. Kita ingin kopi, cokelat, dan rempah Jatim tidak hanya berhenti sebagai komoditas, tetapi lahir menjadi produk bernilai tambah melalui riset, inovasi, dan teknologi,” ujarnya.

Pemprov Jatim, lanjut Khofifah, berkomitmen mendukung petani dan pelaku UMKM dengan fasilitasi pembiayaan, pelatihan, serta akses pasar global. Kepada para petani dan pelaku UMKM, Gubernur Khofifah mengharapkan agar terus menjaga kualitas, inovasi, dan konsistensi.

Sementara itu Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti menyampaikan potensi Jawa Timur di sektor kopi dan cokelat. Tercatat 86 persen ekspor kopi Jawa dikirim melalui pelabuhan Jawa Timur, dengan kontribusi hampir 48 persen dari total produksi kopi Jawa.

“Gerbang Baru Nusantara ini sangat mungkin diwujudkan, karena potensi kopi Jawa Timur luar biasa,” katanya.

‎Tidak hanya kopi, permintaan cokelat global juga terus meningkat. Ia mencontohkan tren cokelat Dubai yang viral, padahal bahan bakunya banyak berasal dari Indonesia. Hal ini menurutnya menjadi peluang besar bagi Jatim untuk memperkuat hilirisasi pangan.

‎“Amerika dan Eropa sangat antusias dengan produk kopi dan cokelat kita. Tantangannya ada pada kapasitas produksi UMKM yang masih terbatas. Kualitas tidak diragukan, tapi kuantitas harus ditingkatkan,” jelas Destry. (*)

 

Editor : Lambertus Hurek
#sentra kopi #Jawa Timur #Gubernur Jawa Timur (Jatim) #Java Coffee and Flavors Fest 2025 #khofifah indar parawansa #ekspor kopi