RADAR SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan bahwa perekonomian Jawa Timur tumbuh sebesar 5,23 persen year-on-year (y-o-y) pada triwulan II tahun 2025.
Capaian ini lebih tinggi dibandingkan dengan ekonomi nasional yang hanya tumbuh 5,12 persen (y-o-y). Menurut Khofifah, hasil ini menunjukkan komitmen Pemprov Jawa Timur dalam mendorong akselerasi kegiatan ekonomi di daerah.
Sektor-sektor utama yang mendukung perekonomian Jawa Timur adalah industri, perdagangan, dan pertanian. Sektor industri berkontribusi sebesar 31,25 persen, perdagangan 18,44 persen, dan pertanian 10,87 persen. Jawa Timur merupakan penyumbang terbesar kedua bagi perekonomian Pulau Jawa dengan 25,36 persen, dan penyumbang terbesar kedua bagi ekonomi nasional sebesar 14,44 persen.
Pada triwulan II 2025, sektor pertanian mencatatkan pertumbuhan tertinggi dengan 16,53 persen. Hal ini didorong oleh masa panen tebu dan puncak musim tangkap ikan laut. Khofifah menambahkan bahwa pertumbuhan sektor pertanian memperkuat posisi strategis Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional, yang berkontribusi dalam mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia.
Pemprov Jawa Timur juga berfokus pada pemberdayaan petani. Salah satu langkahnya adalah memberikan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) dan meluncurkan Kredit Usaha Rakyat Khusus (KURsus) untuk petani tebu, yang menjadikan Jawa Timur sebagai pilot project. Langkah ini bertujuan untuk membantu petani yang sebelumnya terhambat oleh limitasi kredit KUR konvensional.
Selain sektor pertanian, faktor lain yang mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur antara lain meningkatnya ekspor komoditas, kedatangan wisatawan mancanegara, dan momen pelaksanaan ibadah haji serta liburan Hari Raya. Di sisi lain, konsumsi pemerintah juga mengalami peningkatan sebesar 16,42 persen, yang dipengaruhi oleh pencairan gaji ke-13 dan tunjangan hari raya.
Tingkat inflasi Jawa Timur pada semester pertama 2025 tercatat relatif terkendali, yakni 2,02 persen year-on-year. Khofifah menyatakan bahwa Pemprov Jatim akan terus memonitor dan menjaga kestabilan inflasi.
Menurutnya, capaian ini adalah hasil kerja keras bersama. "Ini bukan hanya kerja Pemprov Jatim, tetapi juga semua pihak yang berkolaborasi menjaga kondusivitas di Jawa Timur," ujar Khofifah. (*)
Editor : Lambertus Hurek