RADAR SURABAYA - Meskipun ekonomi nasional Indonesia stagnan di bawah 5 persen dalam lima tahun terakhir, Jawa Timur justru menetapkan target ambisius untuk tumbuh 8 persen pada 2029. Provinsi ini berkontribusi sekitar 25,11 persen terhadap ekonomi Pulau Jawa, dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp819,30 triliun pada triwulan pertama 2025.
Namun, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur masih menghadapi tantangan besar. Sektor pertanian yang menyerap lebih dari 10 persen tenaga kerja, masih memberikan kontribusi kecil terhadap ekonomi. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan petani yang lebih memilih menjual hasil pertanian dalam bentuk mentah. Padahal, Jawa Timur merupakan lumbung pangan nasional, dengan produksi besar komoditas seperti beras, jagung, susu, telur, bawang, dan daging.
Di sisi lain, sektor industri pengolahan masih terpusat di beberapa kota besar. Dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, hanya Surabaya, Sidoarjo, Kediri, dan Pasuruan yang memiliki kontribusi industri di atas 10 persen. Sebagian besar daerah lainnya menyumbang di bawah 1 persen. Hal ini menunjukkan ketimpangan yang perlu diatasi dengan mendorong hilirisasi dan pemerataan sektor industri.
Wakil Ketua Kadin Surabaya, Medy Pramkoso, mengungkapkan bahwa Surabaya memiliki potensi besar sebagai simpul logistik dan transportasi nasional. Namun, biaya produksi yang tinggi masih menggerus daya saing perdagangan kota ini. “Surabaya bisa jadi pusat pemulihan ekonomi nasional, asal mampu menekan biaya produksi dan mempercepat reformasi SDM,” ujarnya.
Ketua Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang optimal hanya bisa dicapai dengan investasi yang memadai dan transformasi sumber daya manusia (SDM). Daya saing Indonesia yang masih kalah dibandingkan negara lain menjadi tantangan besar. Untuk itu, Kadin Jatim bekerja sama dengan Pemprov Jatim untuk mempersiapkan SDM berkualitas melalui pembentukan Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV) di setiap kabupaten/kota.
Meskipun masih banyak tantangan, Jawa Timur tetap menjadi harapan utama untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi dan mempersempit ketimpangan antar daerah. (*)
Editor : Lambertus Hurek