Surabaya – Musim mekar bunga Tabebuya di sepanjang Jalan Tunjungan Surabaya menarik perhatian masyarakat. Ratusan warga memadati kawasan tersebut untuk berjalan-jalan, berswafoto, atau sekadar menikmati suasana jalan ikonik yang berubah menjadi lebih estetis bak lanskap luar negeri.
Kendati menghadirkan keramaian, fenomena ini belum sepenuhnya berdampak terhadap peningkatan pendapatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan tersebut. Beberapa pedagang mengaku kunjungan warga lebih banyak dimanfaatkan untuk aktivitas rekreatif, bukan konsumtif.
“Kadang rame banget, banyak yang datang, tapi cuma foto-foto terus pulang. Yang beli dikit. Jadi ya penghasilan segitu-gitu aja,” ujar Fitrah, salah satu pedagang kaki lima di Jalan Tunjungan, Minggu (28/7).
Menurut Fitrah, waktu kunjungan terbanyak biasanya terjadi pada sore hingga malam hari. Namun, tingkat pembelian tetap belum stabil karena tergantung pada kondisi cuaca dan momentum tertentu.
“Kalau rame terus dan orang juga sadar buat dukung pedagang lokal, itu baru kerasa banget manfaatnya. Tapi sekarang ya masih untung-untungan,” tambahnya.
Mekarnya Tabebuya di sejumlah titik utama kota memang mempercantik wajah Surabaya, namun belum sepenuhnya menghadirkan peluang ekonomi yang merata bagi para pelaku usaha lokal. Para pedagang berharap, minat masyarakat terhadap keindahan alam tersebut dapat diimbangi dengan kesadaran mendukung produk-produk UMKM sekitar. (dwi)
Editor : M Firman Syah