RADAR SURABAYA - Pemerintah akan melakukan percepatan produksi kakao di dalam negeri. Upaya ini dilakukan untuk memanfaatkan potensi ekspor di tengah tingginya harga cokelat dunia.
Hal tersebut disampaikan Presiden RI Prabowo Subianto beberapa waktu lalu. Menurutnya selama melakukan safari ke berbagai negara, banyak sekali negara yang meminta Indonesia untuk memasok kebutuhan cokelat. Apalagi di negara-negara di Eropa.
Menurut Prabowo saat ini harga cokelat dunia sedang naik signifikan karena pasokan yang rendah. Banyak negara penghasil cokelat di Afrika dan Amerika Latin mengalami gagal panen. Indonesia sendiri memiliki bentang alam yang mirip dengan Amerika Latin dan Afrika, maka dari itu pohon kakao sebagai bahan baku cokelat dapat tumbuh subur di Indonesia. Prabowo menekankan pemerintah mulai saat ini akan segera mempercepat pembibitan hingga peremajaan lahan pertanian kakao.
Sementara itu Harga Referensi (HR) komoditas biji kakao periode Juni 2025 ditetapkan sebesar US$ 9.591,52/MT. Nilai ini meningkat sebesar US$ 1.207,77 atau 14,41 persen dibandingkan Mei 2025. Hal ini berdampak pada peningkatan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao pada Juni 2025 menjadi US$ 9.127/MT, naik US$ 1.178 atau 14,82 persen dari periode Mei 2025.
Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Isy Karim mengatakan peningkatan HR dan HPE biji kakao ini dipengaruhi penurunan produksi di negara produsen utama di wilayah Afrika Barat akibat curah hujan yang tinggi. Meski demikian peningkatan harga ini tidak berdampak pada Bea Keluar (BK) biji kakao yang tetap sebesar 15 persen.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur Ir Dydik Rudy Prasetya MMA mengatakan kakao merupakan salah satu dari empat produk unggulan perkebunan Jawa Timur selain tebu, tembakau dan kopi. Menurutnya harga komoditas kakao atau cokelat melonjak signifikan sepanjang tahun 2024. “Budidaya kakao ini sangat diminati masyarakat karena harganya relatif stabil. Selain itu budidaya kakao relatif mudah dan tidak dikenal musim berbuah,” katanya.
Rudy mengatakan dalam meningkatkan produktivitas kakao di Jawa Timur, pemerintah terus melaksanakan kegiatan pengembangan, rehabilitasi, dan intensifikasi kakao. Hal ini juga untuk memberikan peluang kesempatan kerja bagi petani.
Sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas dan mutu tanaman kakao di Jawa Timur juga dilakukan bantuan alat panen dan pasca panen serta peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) petugas dan petani melalui pelatihan. “Dengan adanya pelatihan diharapkan petani dapat meningkatkan keterampilan dalam budidaya serta mengolah biji kakao yang dihasilkan,” katanya.
“Kakao merupakan komoditas strategis untuk meningkatkan pendapatan petani pertumbuhan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun ekspor yang menghasilkan devisa negara,” katanya.
Rudy menambahkan luas lahan kakao tahun 2024 sekitar 51.569 hektare dengan hasil produksi 28.940 ton. Diketahui Kabupaten Jember masih menjadi daerah produsen kakao tertinggi dengan luas lahan 3.996 hektare dan produksi 3.002 ton. Kemudian disusul Kabupaten Blitar dengan luas lahan 4.792 hektare dan produksi 2.970 ton, urutan ketiga adalah Kabupaten Kediri dengan luas lahan 3.849 ton dan produksi 2.619 ton.
Pada urutan keempat ada Kabupaten Madiun dengan luas lahan 5538 hektare dengan produksi 2.407 ton, sedangkan urutan kelima adalah Kabupaten Trenggalek dengan luas lahan 3.757 hektare dengan produksi 2.195 ton. “Memang ada penurunan produksi, akan tetapi ini disebabkan penurunan luas lahan yang disebabkan alih fungsi lahan untuk hal lainnya. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto