RADAR SURABAYA - Meningkatnya angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di tengah ketidakpastian ekonomi global menjadi sorotan. Krisis ekonomi, kebijakan perusahaan, dan regulasi pemerintah disebut sebagai faktor penyebab utama. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Guru Besar Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Prof. Mohammad Nasih MT Ak CA, mengungkapkan bahwa perbankan memiliki peran penting dalam mengatasi masalah ini. "Perbankan sangat potensial dalam menciptakan lapangan kerja melalui investasi," tegasnya pada Senin (30/6).
Investasi perbankan, lanjut Nasih, dapat berupa pendanaan program-program yang sudah berjalan atau mendorong munculnya usaha dan produk baru. "Investasi ini bisa berupa dana untuk membiayai program dan proses produksi yang sudah berjalan, sehingga PHK dapat dihindari," jelasnya.
Ia menekankan pentingnya pemilik usaha untuk mempertimbangkan keuntungan ekonomi, bukan hanya keuntungan finansial semata. "Bank-bank dengan suku bunga tinggi sebaiknya memberikan bunga rendah untuk dana yang belum tersalurkan ke industri produktif. Dengan begitu, pergerakan tenaga kerja akan meningkat," imbuh Nasih.
Lebih lanjut, Nasih menyoroti dampak perang tarif yang signifikan terhadap daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional. "Penurunan permintaan otomatis akan menurunkan PDB dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Perang tarif perlu dikelola sebaik mungkin agar dampak negatifnya diminimalisir," tuturnya.
Untuk meningkatkan daya beli masyarakat, Prof. Nasih menyarankan pemerintah untuk memberikan program-program yang dapat mendorong pendapatan langsung. "Jika dana hanya ditumpuk, ekonomi tidak akan bergerak. Kebijakan efisiensi yang menyebabkan PHK juga perlu dilonggarkan," pungkasnya. (rmt)