RADAR SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menanggapi anomali harga beras. Harga beras medium di Jawa Timur sekitar Rp 13.110.
"Harga tersebut masih dalam tentang relatif baik, tidak terlalu overshoot," ujar Plt Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Minggu (8/6).
Emil mengaku pihaknya terus mengawasi dan menjaga terkait kestabilan harga.
"Kita ingin petani sejahtera, namun konsumen rumah tangga masih bisa membeli beras dengan harga yang masih bisa dijangkau," tutur Emil yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur ini.
"Kami juga sudah melakukan pengecekan, alhamdulillah Jawa Timur memiliki harga gabah, salah satu yang terbaik di Pulau Jawa. Tepatnya berdasarkan hasil analisa Badan Pangan Nasional per tanggal 6 Juni 2025, harga gabah kering panen (GKP) Rp 6.961. Jadi ini angka yang baik, mudah-mudahan kita bisa mempertahankannya," katanya.
Selain itu, lanjut Emil, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur membaik.
"Jawa Timur merupakan daerah agraris yang produksi padinya banyak, kita ingin petani kita sejahtera, namun disaat yang sama kita harus menjaga kestabilan harga beras," jelasnya.
Diketahui, pada Mei 2025 NTP tanaman pangan mengalami kenaikan sebesar 2,37 persen.
Hal ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 1,96 persen sedangkan Ib turun sebesar 0,40 persen.
Kenaikan It pada Mei 2025 disebabkan oleh naiknya indeks yang diterima petani pada kelompok padi sebesar 2,67 persen yang disumbang oleh komoditas gabah, diikuti oleh indeks kelompok Palawija yang naik sebesar 0,15 persen disumbang oleh komoditas jagung, ketela rambat, kacang hijau.
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan anomali atau keanehan harga beras justru naik pada saat stoknya sedang melimpah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga beras di tingkat grosir dan eceran pada bulan Mei 2025 masing-masing naik di harga Rp 13.735 dan Rp 14.748 per kg.
“Ini harus diinvestigasi. Karena data BPS sudah rilis. Bahwa di pengecer turun. Di penggilingan, penggilingan itu identik, dekat dengan petani, di hulu. Kenapa di pengecer naik?,” kata Mentan Amran.
Lebih lanjut Amran mengatakan harga rata-rata beras justru turun di tingkat penggilingan.
Dengan demikian, seharusnya harga beras di tingkat eceran juga ikut mengalami penurunan. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari