RADAR SURABAYA - Okupansi hotel di Jawa Timur selama libur Panjang Waisak rata-rata 75 persen. Sedangkan untuk Surabaya okupansinya 70 persen.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur Dwi Cahyono menuturkan, peningkatan ini terjadi pada daerah-daerah yang memiliki destinasi wisata.
"Sedangkan untuk Surabaya karena adanya event APEKSI. Untuk hotel yang dekat dengan lokasi kegiatan okupansinya mencapai 90 persen. Tapi kalau diambil rata-rata Surabaya ya 70 persen," katanya, Senin (12/5).
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berklasifikasi bintang bulan Januari dan Februari 2025 mencapai 47,83 persen dan 47,80 persen.
Sedangkan TPK hotel berklasifikasi non bintang bulan Januari dan Februari 2025, secara berurutan masing-masing sebesar 21,96 persen dan 21,28 persen.
Kepala BPS Jatim Zulkipli mengatakan, TPK hotel bintang 2 di Jawa Timur bulan Januari dan Februari 2025, secara berurutan masing-masing sebesar 53,74 persen dan 55,45 merupakan TPK tertinggi dibandingkan TPK hotel berbintang lainnya.
“Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) asing pada hotel klasifikasi bintang selama bulan Januari dan Februari 2025, secara berurutan masing-masing sebesar 2,26 hari dan 2,30 hari,” katanya.
“Untuk RLMT keseluruhan pada bulan Januari dan Februari 2025 secara berturut-turut sebesar 1,45 hari dan 1,46 hari,” imbuhnya.
Zulkipli menambahkan, TPK hotel bintang dan non bintang dari 38 Kabupaten dan Kota di Jawa Timur pada bulan Februari 2025 secara umum dapat menjelaskan bahwa terdapat tiga kabupaten/kota dengan TPK hotel bintang dan non bintang tertinggi yaitu Kabupaten Gresik 56,94 persen, Kota Surabaya 50,61 persen, dan Kota Malang 47,60 persen.
“Sedangkan di posisi sebaliknya Kabupaten Magetan 12,78 persen, Kabupaten Probolinggo 13,07 persen, dan Kabupaten Ngawi 13,09 persen,” jelasnya.
Menurutnya, kabupaten dan kota dengan angka TPK tinggi diketahui memiliki lebih banyak destinasi wisata atau pusat bisnis yang menarik bagi para wisatawan atau pelaku bisnis.
Kabupaten/kota dengan infrastruktur yang lebih baik dan kemudahan aksesibilitas cenderung memiliki TPK lebih tinggi.
“Jalan yang baik, transportasi umum yang efisien, dan dekat dengan bandara atau stasiun kereta api adalah faktor penting yang mempengaruhi nilai TPK suatu daerah,” pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari