RADAR SURABAYA - Ekspor Jawa Timur ke Amerika Serikat selalu menempati urutan pertama dan kedua. Sehingga bisa ekspor menjadi salah satu pemicu pertumbuhan ekonomi di Jatim.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri (PPLN) Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur Erivina Lucky Kristian mengatakan, tahun 2024 nilai ekspor Jatim tertinggi ke Jepang yakni USD 3,72 miliar, kemudian Amerika Serikat USD 3,39 miliar, dan Tiongkok USD 3,22 miliar.
Nilai ekspor non migas Jatim tahun 2024 mencapai USD 24,91 miliar. Nilai tersebut meliputi perhiasan USD 4,95 miliar, tembaga USD 2,20 miliar, lemak dan minyak hewani/nabati USD 1,76 miliar, bahan kimia organik USD 1,24 miliar.
“Kemudian ikan, krustasea dan moluska USD 1,17 miliar. Ada juga berbagai produk kimia USD 869,11 juta, kertas USD 794,59 juta, kakao dan olahannya USD 772,55 juta. Kopi, teh dan rempah USD 772,32 juta," terangnya kepada Radar Surabaya, Minggu (20/4).
Diketahui, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menangguhkan kenaikan tarif resiprokal selama 90 hari untuk puluhan negara, termasuk Indonesia. Untuk Indonesia dikenakan tarif 32 persen.
"Meski ditunda tapi kita (Indonesia) masih kena tarif basic yang mencapai 10 persen. Tarif ini juga memberikan pengaruh kepada perekonomian di Jatim," katanya.
Menururnya, Pemprov Jatim telah melakukan pertemuan dengan pelaku usaha dan menunggu kebijakan tim United States Trade Representative (USTR).
"Kami mengimbau perusahaan untuk tidak terburu-buru melakukan PHK terhadap karyawannya," jelasnya.
Lucky menambahkan, masih banyak negara-negara yang belum melakukan kerja sama dengan Indonesia, khususnya Jawa Timur.
Menurutnya, pemerintah bisa mengembangkan kerja sama dengan negara-negara pangsa pasar baru. "Contoh negara-negara di Afrika, kemudian Bangladesh dan Srilangka," pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari