RADAR SURABAYA - Pada tahun 2023, produksi gula nasional sebesar 2,27 juta ton. Sedangkan rata-rata produksi nasional hanya 2,2 juta ton per tahun.
Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi tebu nasional mencapai 2,27 juta ton pada 2023, dan Jawa Timur (Jatim) sebagai provinsi penghasil tebu terbesar dengan produksi mencapai 1,12 juta ton.
Kontribusi Jatim terhadap nasional dalam produksi tebu yaitu sekitar 49,64 persen.
Begitupun dengan luasan areal tebu di Jatim sebesar 44,88 persen dari luasan areal tebu Nasional.
Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur Dydik Rudy Prasetya mengatakan, Jawa Timur cukup penting dan berpengaruh dalam produksi tebu nasional, sehingga bisa menjadi barometer bagi kondisi tebu nasional.
Rudy menuturkan, untuk tahun 2024 dari Januari hingga 15 September jumlah luas lahan tebu di Jatim mencapai 196.090 hektare menghasilkan produksi tebu yang digiling 13.617.986 ton dengan produktivitas 71,3 ton per hektare.
“Kemudian selama Januari hingga September 2024 produksi gula kristal putih (GKP) mencapai 1.003.768 ton dengan produktivitas 5,25 ton per hektare, sehingga diharapkan sampai musim giling yang akan berakhir di November nanti akan masih bertambah,” ujarnya kepada Radar Surabaya.
Rudy menambahkan, produksi tebu di Jawa Timur pada tahun 2023 mencapai 15,08 juta ton atau 45,58 persen dari produksi tebu nasional.
Sementara itu, produksi gula di Jatim pada tahun 2023 mencapai 1,1 juta ton atau 49,61 persen dari produksi gula nasional.
"Tahun 2023, terjadi kenaikan luas areal bila dibandingkan dengan luas areal di tahun 2022 sebesar 219.211 hektare menjadi sebesar 226.520 hektare tahun 2023. Dari luas areal tersebut, berhasil memproduksi GKP sebesar 1.126.796 ton yang diproduksi oleh pabrik gula yang tersebar di beberapa kabupaten di wilayah Jawa Timur," jelasnya.
Rudy mengatakan, Pemprov Jatim berkomitmen membantu petani agar produksi tanaman tebu meningkat.
Salah satunya dengan rutin melakukan sosialisasi ke petani agar mereka bisa mempunyai pengetahuan tentang teknik budidaya tebu yang baik dan benar.
"Selain itu petani juga perlu pengetahuan untuk pengolahan tanah, penanaman, pemupukan, pengairan, pengendalian hama dan penyakit, dan panen," katanya.
Lebih lanjut Rudy mengatakan para petani juga diberi pemahaman tentang cara bongkar ratoon yang tepat, agar perkembangan tebu yang ditanam bisa maksimal.
"Para petani perlu pengetahuan cara membongkar ratoon yang benar dan perawatan setelah bongkar ratoon," jelasnya.
Seperti diketahui, bongkar ratoon merupakan teknik penting dalam budidaya tebu untuk meningkatkan produktivitas dan keuntungan petani.
Rudy menegaskan, dengan bongkar muat ratoon yang benar, petani bisa memperoleh beberapa keuntungan diantaranya memiliki potensi hasil panen yang lebih tinggi.
Sementara itu, teknik bongkar ratoon yang baik akan membantu meningkatkan hasil panen tebu.
"Hal ini karena bongkar ratoon dapat membantu memperbarui sistem perakaran tebu dan meningkatkan penyerapan air dan nutrisi. Dengan teknik bongkar ratoon yang benar dan tepat dapat membantu meningkatkan ketahanan tebu terhadap hama dan penyakit dengan memotong siklus hidup hama dan penyakit," jelasnya.
Dengan adanya keunggulan tersebut, lanjut Rudy, maka petani bisa mengurangi biaya produksi dan meningkatkan keuntungan petani. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari