RADAR SURABAYA – Sepakbola Indonesia mengalami peningkatan pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan perputaran uang di industri ini dilaporkan mencapai angka triliunan rupiah.
Klub-klub Liga 1 dan Liga 2 semakin aktif dalam mendatangkan pemain asing berkelas, memperkuat akademi sepakbola, dan menggandeng sponsor besar, yang semuanya berkontribusi pada pertumbuhan sektor olahraga ini.
Tentu dampaknya tak hanya bagi bidang olahraga nasional, namun dari sana juga memberikan dampak ekonomi dan perputaran uang.
Menurut laporan dari Federasi Sepakbola Indonesia (PSSI), pada musim 2023/2024, total perputaran uang di industri sepakbola mencapai lebih dari Rp 3 triliun.
Pendapatan ini didorong oleh beberapa faktor, termasuk hak siar, sponsor, tiket pertandingan, dan penjualan merchandise resmi.
Perjanjian hak siar yang ditandatangani dengan berbagai jaringan televisi dan platform digital berperan besar dalam meningkatkan pendapatan klub.
Nilai kontrak hak siar untuk Liga 1 dilaporkan mencapai ratusan miliar rupiah, dengan peningkatan tajam setelah adanya kolaborasi dengan platform streaming internasional.
Selain itu, sponsor dari perusahaan besar, baik lokal maupun multinasional, seperti produsen rokok, bank, dan perusahaan telekomunikasi, semakin memperkuat keuangan klub.
Transfer pemain juga menjadi komponen penting dalam perputaran uang.
Beberapa klub Indonesia, seperti Persib Bandung dan Bali United, berani mengeluarkan uang besar untuk mendatangkan pemain asing dengan reputasi tinggi.
Sementara itu, sejumlah pemain lokal berbakat mulai dilirik oleh klub-klub luar negeri, yang menjadikan transfer antarnegara sebagai aliran uang baru di sepakbola Indonesia.
Kemudian penjualan merchandise resmi klub, seperti jersey, syal, dan berbagai suvenir, menjadi salah satu sumber pendapatan yang semakin berkembang.
Klub-klub besar seperti Arema FC dan Persebaya Surabaya bahkan mulai merilis edisi khusus merchandise yang laris manis di pasaran.
Beberapa toko online resmi klub mencatat peningkatan penjualan lebih dari 50 persen dalam satu musim.
Sementara untuk pendapatan dari tiket dan keanggotaan, meski pandemi sempat mengurangi jumlah penonton di stadion, kembalinya suporter pada musim 2023/2024 menambah pendapatan signifikan dari penjualan tiket pertandingan.
Sebagai tambahan, program keanggotaan klub, seperti yang diterapkan oleh PSM Makassar dan Persija Jakarta, memberikan keuntungan berkelanjutan dengan menjual paket keanggotaan eksklusif kepada para penggemar setia.
Meski perputaran uang di sepakbola Indonesia menunjukkan tren positif, industri ini juga menghadapi beberapa tantangan.
Infrastruktur stadion yang belum merata dan ketidakpastian dalam regulasi finansial klub menjadi masalah yang perlu diperbaiki.
PSSI juga terus menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan finansial, terutama untuk klub-klub yang belum mandiri secara ekonomi.
Namun, dengan semakin solidnya manajemen klub dan dukungan dari pemerintah untuk pembangunan infrastruktur olahraga, prospek industri sepakbola Indonesia dalam beberapa tahun ke depan terlihat cerah.
Pertumbuhan ekonomi di sekitar klub-klub besar juga menciptakan peluang kerja dan mendongkrak industri pariwisata olahraga, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Bali.
"Kami melihat sepakbola sebagai salah satu penggerak ekonomi lokal. Klub-klub besar kini berperan sebagai pusat aktivitas ekonomi di wilayah mereka, dari bisnis retail hingga pariwisata olahraga," ujar Ketua PSSI, Erick Thohir.
Dengan semakin berkembangnya liga dan daya tariknya di mata sponsor serta investor, industri sepakbola Indonesia diharapkan akan terus tumbuh, memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat dan negara. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari