SURABAYA - Bulog Jawa Timur memiliki dua skema untuk menjaga stabilisasi harga jagung. Yakni skema Public Service Obligation (PSO) dan skema komersial.
"Untuk skema PSO ini adalah menyerap jagung dari petani atau mitra pengolahan jagung untuk cadangan jagung pemerintah. Kemudian kedua, skema komerseial. Jadi peternak untuk mendapatkan jagung 3 bulan ke depan sudah ada komitmen berapa yang akan dibeli dan harganya sekian. Kita kunci harganya. Sehingga fluktuasi harga bisa diminimalisir. Karena adanya kontrak tersebut, maka kita harus cari jagungnya,“ ujar Pemimpin Bulog Kanwil Jatim Awaludin Iqbal kepada Radar Surabaya, Minggu (7/7).
Iqbal menambahkan untuk PSO, pihaknya sudah kerjasama dengan petani jagung Tuban. Sedangkan skema komersial dengan peternak Kediri dan Blitar.
"PSO yang sudah terserap 500 ton jagung sedangkan komersial sudah 800 ton saat ini," terangnya.
Sementara itu untuk beras, lanjut Iqbal, Bulog Kanwil Jawa Timur menargetkan serapan tahun ini 110.000 ton. Menurutnya saat ini yang sudah terserap 71.000 ton.
Menurutnya di Bulog saat ini ada Project Management Office (PMO) Mitra Tani yakni institusi dalam Bulog yang didedikasikan untuk mengembangkan kemitraan dengan petani.
“Kemitraan dengan petani melalui budidaya sinergis dan budidaya mandiri. Budidaya sinergis ini melibatkan beberapa pihak seperti BUMN, swasta dan petani. Sedangkan budidaya mandiri itu langsung dengan petani. Jadi petani yang memiliki lahan, kita yang support pembiayaan dan saprodinya, nantinya semua hasil panen diserap Bulog,” katanya.
Tujuannya, lanjut Iqbal, untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan program tersebut diharapkan produksi meningkat dan petani sejahtera.
“Ini merupakan langkah strategis. Karena orientasinya bukan price policy tapi income policy. Yakni meningkatkan kesejahteraan petani dengan tidak harus menaikkan harga tapi meningkatkan pendapatan petani dengan meningkatkan priduksi. Target kedua adalah kami memiliki jaminan pasokan gabah maupun beras," pungkasnya. (mus)
Editor : Jay Wijayanto