SURABAYA - Budidaya ikan hias di Jawa Timur masih menjanjikan secara ekonomis. Sejumlah negara Eropa kembali meminta komoditas ikan hias dari Jawa Timur setelah sempat mandek saat pandemi covid lalu.
Akhir pekan lalu, sebanyak 121 ekor ikan koi diekspor dari Pelabuhan Bandara Juanda, Surabaya, ke Italia. Sebelum diekspor, petugas Karantina Jawa Timur melakukan uji sampel hingga pemeriksaan dokumen yang diperlukan.
Ari, pemilik ikan koi asal Blitar, menyebut komoditas ikan koi yang diekspor ke Italia itu bernilai sekitar Rp 20 juta. Sejumlah ikan koi yang diminati pasar Eropa di antaranya jenis Showa, Sanke, Cagoi, Aragoke, Kohaku, Tancho, dan Shiro.
Ukuran rata-rata ikan koi itu panjang 50 sampai dengan 80 cm. Selera orang Eropa agak berbeda dengan pengusaha Tiongkok atau Taiwan serta negara-negara Asia lainnya.
"Yang perlu diperhitungkan adalah teknik packing karena lama perjalanan udara sekitar 40 jam untuk sampai ke Italia tanpa repacking," kata Ari.
Berbeda dengan komoditas ekspor biasa, menurut Ari, pengiriman komoditas hewan hidup seperti ikan hias sangat memerlukan perhatian ekstra. Mulai dari suhu, tempat penyimpanan, hingga bebas penyakit. Jangan sampai komoditas mahal itu mati sebelum sampai ke tujuan.
"Ikan koi adalah ikan yang harus benar-benar sehat dan bebas penyakit. Kalau nggak gitu nggak akan tahan dalam perjalanan," ujar Ari.
Dia mengaku senang karena permintaan komoditas ikan hias di Jawa Timur kembali meningkat akhir-akhir ini. Dengan begitu, para peternak ikan koi dan ikan hias lainnya bisa bergairah untuk mengembangkan aneka ikan hias di Jawa Timur.
"Budidaya ikan hiasa itu harus telaten banget. Beda dengan budidaya ikan di tambak," katanya. (rek)
Editor : Lambertus Hurek