RADAR SURABAYA – Kondisi perekonomian Jawa Timur pada 2024 diproyeksikan bisa tumbuh 4,7 persen hingga 5,5 persen, dengan motor utama investasi dan konsumsi.
Optimisme pertumbuhan ekonomi Jatim juga didorong kinerja berbagai lapangan usaha.
Dalam penjualan eceran, survei mendapati penjualan suku cadang dan aksesori bakal menguat.
Demikian juga untuk bahan bakar dan peralatan komunikasi.
Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jatim, Erwin Gunawan Hutapea dalam acara Jatim Talk sebagai rangkaian Road to East Java Economic Forum (Ejavac) 2024 yang berlangsung di Surabaya, Selasa (26/3).
Menurutnya pertumbuhan kredit rumah tangga diproyeksi bisa 9,79 persen pada triwulan I/2024, sementara pada triwulan IV/2024 bisa tumbuh 9,43 persen.
"Signifikansi Jatim itu ekonomi kedua terbesar, kontribusi lebih 14 persen terhadap PDRB/PDB domestik, sehingga perlu bersama merumuskan strategi paling optimal untuk mendorong kesejahteraan ekonomi Jatim," jelasnya.
Sementara di sisi eksternal, ekonomi Jatim masih akan terpengaruhi situasi global, perang Rusia, konflik Palestina, krisis Laut Merah yang bisa memengaruhi harga energi, sejumlah komoditas impor hingga biaya transportasi logistik internasional yang bisa naik.
Tantangan eksternal ini bisa terkontrol jika potensi domestik bisa dimaksimalkan.
"Sinergi dan kolaborasi penting dilakukan untuk menjaga ekonomi Jatim. Bersama dengan kalangan praktisi dan akademisi memberikan sejumlah rekomendasi strategi yang perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi maupun inflasi di tengah tantangan konflik geopolitik," urainya.
Erwin menambahkan tantangan yang pertama adalah konflik geoplitik.
"Perang Ukraina – Rusia yang kita pikir cepat selesai, ternyata bertahan lama. Lalu di Timur Tengah ada perang Israel – Palestina sehingga goblal supply terganggu, harga energi naik. Ini yang bikin inflasi global jauh diatas dugaan," terangnya.
Ditambah lagi, lanjut Erwin, sektor pertanian di dunia menghadapi El-Nino sehingga harga-harga barang pangan meroket.
Lalu Vietnam dan India menahan ekspornya demi ketahanan pangan mereka.
Kondisi ini pun menambah beban inflasi global.
"Sebagai respons, tentunya bank-bank sentral di negara utama seperti The Fed menaikkan suku bunga. Itu menyebabkan ekonomi dunia di 2023 tumbuh melambat 3,06 persen," jelasnya.
Namun demikian, menurutnya, Indonesia perlu bersyukur karena di tengah tantangan tersebut ekonominya masih bisa tumbuh di atas 5 persen pada 2023.
Lantaran tidak banyak negara yang bisa tumbuh hingga 5 persen.
Sedangkan inflasi Jatim juga berhasil mencapai 2,92 persen atau berada di range target 2023 yakni 3 persen plus minus 1 persen.
Menurutnya, konsumsi domestik yang solid telah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan Jatim.
Ditambah lagi berlanjutnya investasi dan penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN), serta ada sinergi kebijakan antara pemerintah, BI dan seluruh stakeholder.
"Motor penggerak Jatim adalah konsumsi yang solid, obyek PSN, dan peningkatan konsumsi LNPRT sejalan dengan persiapan pemilu yang mulai dirasakan putarannya di akhir 2023," paparnya.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Kepala Perwakilan BI Jatim M Noor Nugroho menambahkan, faktor belanja pemerintah yang sejalan dengan persiapan pemilu dan pilkada serantak 2024 diyakini akan turut mendorong perbaikan kinerja ekonomi Jatim.
Hal tersebut sudah terlihat di kuartal I/2024 dari beberapa indikasi seperti penjualan eceran dan penjualan motor cenderung sedikit meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.
Dan konsumsi kredit rumah tangga meningkat yang semuanya berdampak padai sektor usaha.
"Dengan konsumsi naik, kondisi usaha otomatis membaik dan juga raw manufacturing meningkat. Meski demikian inflasi masih perlu diwaspadai dan tidak tidak boleh lengah. Sebab, ada tren kenaikan harga pangan seperti daging ayam, telur ayam ras, dan daging sapi. Serta ada kenaikan harga dengan level tinggi yakni beras yang selama 5 tahun tidak pernah menjadi penyumbang inflasi saat Ramadan, tetapi kini menjadi pendorong inflasi," terangnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa