Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kandungan Emas di Tambang Tujuh Bukit Banyuwangi Mulai Menipis. Ini yang Dilakukan BSI Sebagai Operator Tambang

Nofilawati Anisa • Senin, 4 Maret 2024 | 00:35 WIB

 

BIJIH EMAS: Aktivitas di Tambang Tujuh Bukit Banyuwangi PT Bumi Suksesindo (BSI) di bawah bendera PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). (NOFILAWATI ANISA/RADAR SURABAYA)
BIJIH EMAS: Aktivitas di Tambang Tujuh Bukit Banyuwangi PT Bumi Suksesindo (BSI) di bawah bendera PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). (NOFILAWATI ANISA/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA – Tambang emas Tujuh Bukit Banyuwangi yang dioperasikan PT Bumi Suksesindo (BSI) mulai melakukan penambangan ore tahun 2016.

Selanjutnya, pada 17 Maret 2017, perusahaan di bawah bendera PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) itu berhasil memproduksi emas untuk pertama kalinya.

Heap Leach Operation Head BSI Hariadhi Anjar Kusuma mengatakan, di awal penambangan, tambang Tujuh Bukit Banyuwangi mampu menghasilkan tiga hingga empat gram emas per satu ton ore yang ditambang.

Namun, jumlah kandungan emas di setiap ore saat ini terus menyusut.

“Saat ini kandungan emas setiap satu ton ore tak lebih dari 0,8 gram emas,” ungkap Anjar di sela Mine Tour Tujuh Bukit Banyuwangi, Kamis (29/2).

Lebih jauh ia menjelaskan, seiring dengan berkurangnya kandungan emas di kawasan terkait, perusahaan memperkirakan produksi emas di 2024 di kisaran 121 ribu ounces.

Prediksi itu mengalami penurunan dibanding capaian tahun 2023 sebesar 129 ribu ounces maupun produksi di 2022 sebanyak 125 ribu ounces.

“Risiko tambang dengan sistem open pit seperti di Tujuh Bukit ini, memang bakal makin sulit karena kita harus nambang semakin ke dalam lapisan tanah,” ungkapnya.

Anjar menjelaskan, sistem penambangan open pit memang cukup sederhana.

Penambang bisa menggali tanah untuk mencari ore, lalu dipindah ke heap leach untuk dialiri air.

Tujuannya agar mineral mulia terpisah dengan tanah dan batuan lainnya.

“Setelah itu, emas dan perak akan diserap oleh karbon aktif agar nantinya dijadikan satu batangan yang disebut ore bullion. Nah, kita kirim ke Antam itu sudah dalam bentuk batangan,” jelas arek Suroboyo itu.

Ditambahkan Anjar, perusahaan saat ini sedang dalam masa transisi sistem penambangan.

Yaitu dari sistem penambangan open pit alias penambangan terbuka menjadi penambangan bawah tanah.

“Dengan sistem ini, penggalian bisa diperluas. Di sisi lain, kandungan emas juga akan semakin kecil,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, General Manager BSI Roelly Franza mengatakan, saat ini pihaknya sedang menyiapkan uji kelayakan dalam peralihan dari tambang terbuka ke tambang bawah tanah.

Ada empat uji kelayakan yang sedang dilakukan.

“Pertama layak secara teknologi, layak secara ekonomi, layak secara masyarkat dan keempat layak secara lingkungan. Keempat poin itu harus terpenuhi semuanya, kalau ada satu poin saja yang tidak terpenuhi maka uji kelayakan tidak akan diterima,” katanya.

Roelly menambahkan, dengan perubahan sistem tersebut, otomatis perusahaan akan fokus untuk menambang tembaga.

Sedangkan emas dan perak hanya akan menjadi produk sampingan.

“Harapannya, tambang bawah tanah bisa berproduksi pada 2027,” pungkasnya. (opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Merdeka Copper Gold Group #bumi suksesindo #tujuh bukit banyuwangi #tambang emas