SURABAYA – Diterima atau tidak, platform belanja online telah mengubah pola interaksi antara pedagang dan pembeli di semua pusat perbelanjaan di Surabaya. Dampak dari masifnya penetrasi platform belanja online ini ke ruang-ruang pribadi masyarakat menyebabkan banyak mal dan pusat belanja kini sepi pengunjung.
Tak terkecuali di Jembatan Merah Plaza (JMP) dan Mal ITC Surabaya, dua pusat perbelanjaan di Surabaya Utara. Bahkan, kini banyak pedagang di dua pusat perbelanjaan itu yang beralih ke lapak-lapak online atau e-commerce. Meski mereka tetap membuka tokonya di mal.
Langkah untuk masuk ke online shop ini guna memperluas jangkauan dan meningkatkan kenyamanan bagi pelanggan. Keputusan ini sekaligus mencerminkan adaptasi terhadap perubahan tren belanja konsumen yang semakin digital dan mempercepat pergeseran industri ritel ke ranah e-commerce.
Perubahan ini tak hanya membawa dampak positif bagi pelanggan dengan kemudahan aksesibilitas berbelanja. Tapi juga memudahkan bagi para pedagang untuk menjangkau pasar dan konsumen yang lebih luas.
Sonny Dwi Imam Saputro, pemilik toko Sriwijaya Tenun di JMP mengatakan bahwa dirinya mau tidak mau harus mencoba untuk membuka peluang baru dengan berjualan online. “Kalau tidak, mungkin bisa saja kami gulung tikar,” ujarnya.
Sonny yang membuka lapak kain dan pakaian jadi dari bahan tenun dan batik mengaku beralih ke online sejak tiga tahun lalu. Tepatnya saat pandemi Covid-19 dimana angka kunjungan ke JMP menurun drastis karena adanya pembatasan mobilitas manusia.
“Maka saya membuka toko online, tapi hanya melalui platform WA, supaya lebih cepat saja untuk merespon pelanggan,” paparnya.
Dian Putro, pegawai Sonny di toko Sriwijaya Tenun menambahkan bahwa kini lebih sering mendapat orderan secara online. “Biasanya pelanggan tanya-tanya lebih sering melalui WA, kemudian keesokan harinya mereka datang untuk membeli barangnya yang sudah ditanyakan kemarin,” katanya.
Meskipun beralih ke lapak online, Sonny mengaku tetap mempertahankan toko fisiknya sebagai pilihan bagi konsumen yang lebih suka pengalaman belanja langsung atau ingin melihat produk secara langsung sebelum membeli. Ini memungkinkan pelanggan untuk memilih sesuai preferensi mereka.
Meski demikian, sebagian toko di JMP maupun ITC tidak sepenuhnya menjual barangnya secara online.
“Tidak semua kita jual online, mungkin khusus sprei dan celana saja yang kita online-kan. Kalau yang sisanya seperti baju, jaket dan kain, kita masih jual di toko secara offline,” ucap Dwi Hayani yang berjualan baju dan kain di ITC.
Ini alasan yang logis karena beberapa barang memang sulit jika dipesan secara online, yang akhirnya pembeli memutuskan langsung datang ke tempat. Seperti kain atau bahan tekstil lain ketika membeli harus mengukur potongan yang akurat sesuai kebutuhan.
“Ini tadi saya dari toko kain, mau membeli untuk keperluan baju anak-anak. Saya sudah tahu sebelumnya kalau sebagian toko di sini juga jualan di online shop. Berhubung saya butuhnya tidak banyak, untuk keperluan sendiri, ya saya langsung ke sini saja. Toh, saya butuh ukuran yang akurat per meternya daripada takut salah atau gimana saya ke sini saja,” kata Fitriyani, seorang pembeli.
Para pedagang di Mal JMP dan ITC menyadari bahwa beralih ke online shop bukanlah sekadar tren. Melainkan suatu strategi untuk beradaptasi dengan perubahan model belanja masyarakat yang mengarah ke digital.
Mereka berinvestasi dengan menyediakan sarana teknologi dan mengadaptasi inovasi digital untuk terus meningkatkan pengalaman belanja online agar tetap relevan di pasar yang terus berubah. (mg1/gus/jay)
Editor : Jay Wijayanto