MAGELANG - Ekonomi Jawa Timur triwulan III/2023 tetap tumbuh positif, meskipun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya.
Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Jatim Doddy Zulverdi, Rabu (15/11).
Doddy menjelaskan kinerja ekonomi Jawa Timur pada triwulan III/2023 tumbuh 4,86 persen (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan II/2023 5,25 persen (yoy) yang dipengaruhi oleh perlambatan kinerja investasi dan konsumsi pemerintah.
"Jadi perlambatan investasi dipengaruhi oleh pembangunan proyek strategis yang mengalami penundaan konstruksi, pembangunan beberapa proyek yang telah masuk tahap finishing, serta investor yang masih wait and see akibat peningkatan ketidakpastian global dan safari politik domestik," jelasnya di sela Capacity Building dan Bincang Media yang dihelat KPw BI Jatim di Magelang, Rabu (15/11).
Sedangkan kinerja konsumsi pemerintah melambat disebabkan normalisasi pasca oleh pencairan bantuan sosial (bansos), Tunjangan Hari Raya (THR), dan gaji ke-13 untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) pada triwulan II/2023.
Doddy menambahkan perlambatan kinerja ekonomi lebih tinggi tertahan oleh peningkatan kinerja konsumsi rumah tangga seiring dengan kenaikan pengeluaran pendidikan (tahun ajaran baru), peningkatan konsumsi peralatan rumah tangga, bahan bakar, serta suku cadang.
"Perbaikan kinerja ekspor turut menahan perlambatan lebih dalam. Kenaikan kinerja ekspor seiring peningkatan permintaan eksternal dari mitra dagang utama Jawa Timur, yakni Tiongkok (komoditas lemak/minyak nabati), Eropa (komoditas kimia organik), dan Malaysia (komoditas tembaga dan kayu)," terangnya.
Meski demikian Doddy mengatakan ekonomi Jawa Timur triwulan IV/2023 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan III/2023, karena ditopang oleh prakiraan kinerja konsumsi dan investasi yang lebih tinggi.
Hal tersebut diperkirakan mendorong perbaikan kinerja Lapangan Usaha (LU) Perdagangan, LU Konstruksi, dan LU Akomodasi Makan Minum.
Untuk peningkatan konsumsi rumah tangga terutama didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat pada akhir tahun, momen Hari Besar Keagamaaan Negara (HBKN) natal dan tahun baru (Nataru), peningkatan konsumsi pada masa safari politik menjelang pemilu tahun 2024 serta insentif Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan PPN DTP untuk rumah di bawah Rp 2 miliar.
"Untuk investasi diprakirakan turut meningkat terutama ditopang oleh berlanjutnya PSN, proyek Perpres No.80 Tahun 2019, dan proyek swasta," ujarnya.
Doddy juga mengatakan jumlah merchant QRIS di Jawa Timur pada September tercatat 3,28 juta atau meningkat 42,85 persen (yoy) dibandingkan September 2022.
Merchant QRIS tersebut didominasi oleh merchant UMKM. "Posisi pengguna QRIS di Jawa Timur pada September 2023 sebanyak 5,73 juta, tumbuh sebesar 60,67 persen (yoy) dibandingkan September 2022 meskipun secara penambahan pengguna melambat sebesar-57,92 persen (yoy),” ungkapnya.
"Nominal dan volume transaksi QRIS di Jawa Timur pada September masing-masing sebesar Rp 2,15 triliun atau meningkat 250 persen (yoy) dan 22,15 juta transaksi atau meningkat 227 persen (yoy) meskipun melambat secara bulanan masing-masing sebesar 5,64 persen (mtm) dan -7,25 persen (mtm)," pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa