Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Demand Plat Baja Meningkat, GDST Segera Operasikan Plant 2 dengan Investasi Rp 1 Triliun

Moh. Afik • Jumat, 20 Oktober 2023 | 03:02 WIB
OPERASIKAN PLANT 2: Direksi PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk menjelaskan rencana mengoperasikan plant 2 untuk memenuhi kebutuhan plat baja nasional yang terus meningkat. (M. Afiq Firdaus/Radar Surabaya)
OPERASIKAN PLANT 2: Direksi PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk menjelaskan rencana mengoperasikan plant 2 untuk memenuhi kebutuhan plat baja nasional yang terus meningkat. (M. Afiq Firdaus/Radar Surabaya)

SURABAYA - Industri baja nasional terus meningkatkan kapasitas produksinya untuk memenuhi kebutuhan plat baja yang makin meningkat. Salah satunya adalah PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) yang akan segera mengoperasikan Plant 2 dengan investasi Rp 1 triliun.

Hadi Sutjipto, Direktur PT GDST menjelaskan, secara nasional kebutuhan plat baja di Indonesia masih cukup tinggi.

Ada sekitar 2.760.000 ton per tahun. Namun sejauh ini yang bisa dipenuhi industry plat baja dalam negeri sekitar 76 persen. Sisanya yang 24 persen masih impor.

“Jadi potensi pasarnya masih cukup besar. Karena itu kesempatan untuk berinvestasi masih bagus,” kata Hadi Sucipto, saat public expose, Kamis (19/10).

Sebab itu, GDST terus meningkatkan kapasitas produksinya dengan segera mengoperasikan Plant2. Saat ini plant 1 memiliki kapaitas produksi 400 ribu ton per tahun.

Sementara Plant 2 dengan mesin modern dan otomatis, akan memiliki kapaitas lebih besar yakni 1 juta ton per tahun.

Gwie Gunadi, Direktur PT GDST menambahkan, pihaknya sangat yakin semua produksi GDST nanti akan terserap pasar dengan baik. Sebab kebutuhan di dalam negeri terus meningkat.

Sebagai gambaran, demand plat baja di Batam saja sebanyak 600-700 ribu ton per tahun untuk industri galangan kapal.

Selain dipasok dari dalam negeri juga sebagian masih di impor terutama dari Tiongkok. Sebab itu, peluang untuk mengembangkan industri baja di dalam negeri masih terbuka lebar.

Apalagi pembangunan infratsrktur di IKN yang cukup massif membuat demand besi baja dan plat baja juga meningkat seperti untuk jembatan, konstruksi, gedung dan lainnya.

“Kebutuhan galangan kapal di Batam cukup besar. Andai saja kita bisa memasok 50 persennya itu cukup bagus. Selama ini kami memasok ke Batam sekitar 3000 ton pertahun. Dengan beroperasinya plant 2 nanti kami berharap bisa memasok 10.000 ton per tahun ke Batam,” ungkap Gunadi.

Sementara itu, Sanyog Srivastava, Deputy Direktur Produksi PT GDST mengatakan, potensi pasar plat baja masih cukup besar.

Sebab itu, operasional Plant 2 GDST akan memberikan dampak positif pada perseroan. Uji coba mesin produksi akan dilakukan secepatnya sebelum produksi komersial dilakukan.

“Dua bulan ini kami coba mesin tanpa bahan baku. Setelah Januari hingga Maret akan kami coba produksi dengan bahan baku. Trial in butuh wakti hingga benar-benar bisa running,” ungkap Srivastava.

Terkait kinerja 2023, Hadi Sutjipto menambahkan, hingga 31 Agustus 2023, penjualan GDST mencapai Rp 1,6 triliun.

Jumlah tersebut turun 9,28 persen dari tahun 2022 periode yang sama yakni Rp 1,8 triliun. Sementara laba komprehensif turun 21,9 persen dari Rp 223,5 miliar menjadi Rp 174,5 miliar.

Penurunan tersebut disebabnya anjloknya penjualan ekspor karena harga turun. Pada tahun lalu saat perang Rusia-Ukraina, permintaan plat baja di Eropa naik drastic dan harganya juga naik signifikan. Namun setelah Tiongkok, Jepang dan Korea juag masuk ke pasar Eropa, akhirnya harga turun kembali.

“Ekspor tahun ini turun drastic. Hingga Agustus 2023, ekpsor kami hanya mencapai Rp 33,3 miliar atau 2 persen dari total penjualan. Sedangkan tahun lalu periode yang sama nlai ekspor sebesar Rp 418,3 miliar atau 23 persen dari total penjualan,” tegas Hadi Sutjipto.

Andy Soesanto, Direktur PT Beton Jaya Manunggal Tbk – anak usaha PT GDST – mengatakan, kinerja Perseroan tahun ini melambat karena terimbas menurunya pasar properti. Namun begitu, pihaknya tetap optimis tahun ini penjualan akan mencapai Rp 130 miliar turun signifikan dari tahun lalu yakni Rp 152 miliar.

Hingga 31 Agustu 2023 penjualan Beton mencapai Rp 93,8 miliar dengan rugi bersih mencapai Rp 25,3 miliar. Sementara tahun lalu pihaknya masih untung Rp 39,7 miliar. Kerugian tersebut disebabkan rugi nilai kurs dolar AS yang cukup besar.

“Tahun ini kondisinya lebih buruk dari pada saat kovid lalu. Pasar propereti benar-benar kontraksi luar biasa sehingga penjualan besi beton juga menurun. Namun kami optimis target Rp 130 miliara akan tercapai dengan laba 3-5 persen dari penjualan,” tandas Andy Soesanto. (fix)

Editor : Jay Wijayanto
#industri baja #Dianjaya Steel