SURABAYA - Pemerintah makin serius melakukan percepatan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui target Net Zero Emissions (NZE) di tahun 2060.
Langkah ini harus dilakukan mengingat kian menurunnya produksi minyak nasional.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Adik Dwi Putranto mengatakan, sesuai data Kementeran ESDM, saat ini bauran energi primer masih didominasi oleh energi fosil.
Dengan perincian batu bara mencapai 37,6 persen, minyak bumi 33,4 persen dan gas alam sebesar 16,7 persen.
Sementara kontribusi EBT masih sekitar 12,3 persen.
“Untuk menuju NZE dan pengembangan EBT di tahun 2060, pemerintah butuh sekitar USD 1.108 miliar atau sekitar USD 28,5 miliar per tahun. Potensi yang luar biasa sekali. Dan ini perlu dukungan dari investor, pengusaha baik dalam maupun luar negeri,” kata Adik, Jumat (6/10).
Menurut Adik, sebenarnya bisnis sektor EBT ini sangat menarik bagi investor.
Sebab sektor EBT adalah bisnis masa depan. Sementara potensi EBT di Indonesia sangat besar.
Secara nasional, potensi EBT di Indonesia mencapai 3.689 Giga Watt (GW).
Terdiri dari energi solar 3.295 GW, air 95 GW, bio energy 57 GW, angin 155 GW, panas bumi 24 GW dan laut 63 GW.
Tetapi yang telah dimanfaatkan hanya sekitar 12,602 MW atau sekitar 0,3 persen dari total potensi yang ada.
“Karena mau tidak mau, fosil akan habis, minyak akan habis, batu bara juga akan habis. Di satu sisi, Indonesia memiliki potensi EBT yang cukup besar yang belum tergarap maksimal, mulai panas bumi, air, angin, biomassa dan lain sebagainya. Oleh karena itu saya mengajak teman-teman pengusaha Jatim untuk ikut berbisnis di sektor ini,” ungkap Adik.
Menurut Adik, saat ini yang mendesak dilakukan pemerintah adalah mempermudah aturannya.
Kemudahan berusaha di sektor EBT harus dijamin, tidak hanya sekadar janji.
“Kemudahan perizinan dan kecepatan. Itu yang dibutuhkan karena sejauh ini masih banyak yang mengeluhkan soal itu. Kepastian berusaha harus dipertegas, juga kepastian bahwa produksi EBT bisa dibeli PLN,” ungkapnya.
Adik mengaku pernah menemukan kasus, ada sebuah perusahaan yang menggunakan biomassa untuk pasokan energi di perusahaannya.
Karena produksi energinya berlebih, perusahaan tersebut berkeinginan menyalurkan ke masyarakat di sekitar.
Tetapi kemudian keinginan tersebut tidak terlaksana karena terbentur aturan yang ada.
Di sisi lain, ia juga berharap pemerintah akan secara massif melakukan sosialisasi pengembangan EBT dan potensi bisnisnya kepada para investor.
Karena sejauh ini masih belum banyak pengusaha yang paham dan mengerti tentang bisnis tersebut.
“Sosialisasi juga harus digencarkan. Dengan potensi yang sudah ada, maka potensi-potensi ini harus sering ditawarkan, disosialisasikan kepada pengusaha dan investor, baik dalam maupun luar negeri. Karena buat teman-teman di Kadin ini adalah bisnis baru yang sangat potensial yang bisa menjadi peluang usah untuk dunia usaha. Dan semua negara di dunia saat ini sedang melirik EBT,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jatim, Dyah Wahyu Ermawati mengatakan, potensi EBT di Jatim sangat luar biasa besar.
Pasarnya juga cukup besar, lebih dari160 juta jiwa di Jatim dan Indonesia bagian timur.
Untuk itu, Pemprov Jatim berkomitmen memberikan kemudahan bagi para investor yang ingin masuk Jatim dan berinvestasi di sini.
"Kami berikan kemudahan perizinan berusaha dan juga penyediaan data serta informasi tentang peluang investasi,” ungkap Dyah. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa