SURABAYA - Potensi industri emas dan perhiasan di Indonesia cukup besar. Sebab itu mereka perlu terus didorong agar semakin berkembang dan menopang laju pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Reni Yanita M,Si, Dirjen Industri Kecil,Menengah dan Aneka, Kementerian Perindustrian RI, mengatakan, salah bentuk dukungan adalah menggelar pameran emas dan perhiasan. Tujuannya untuk memperkenalkan kemampuan industri perhiasan dan permata serta meningkatkan belanja masyarakat.
“Sekarang peringkat ekspor perhiasan kita masuk ke 17 naik dari sebelumnya peringkat 18. Dari Januari – Juni 2023, ekspor perhiasan kita sudah surplus USD 3,1 miliar. Karena itu, potensi dalam negeri harus terus dikuatkan. Salah satunya lewat kegiatan pameran seperti ini,” kata Reni Yanita, Kamis (28/9).
Dijelaskan, sekarang perhiasan emas dan permata Indonesia tidak hanya membidik konsumen dalam negeri saja, namun juga konsumen asing yang terus bertumbuh. Indonensia memiliki sumber daya alam besar sekali. Selain emas juga alam yang bisa dikelolah menjadi perhiasan sehingga memiliki nilai tambah yang besar.
“Batu-batuan itu tidak kita ekspor dalam bentuk komoditi namun kita kelolah menjadi perhiasan. Selain untuk market lokal juga kkita ekspor. Ini yang tidak ternilai. Kalau tidak kita kembangkan, nnati kita hanya akan jadi pasar saja. Jadi konsumen saja,” tambahnya.
Dia mengaku persaingan pasar emas dan perhiasan di luar negeri cukup ketat. Selain dari Indonesia, pasar global juga dipasok dari negara lain seperti dari Amerika, India dan China. Dia yakin, secara perlahan tapi pasti Indonesia tetap akan diperhitungkan di pasar global.
“Tujuan ekspor kita selain ke Singapura juga ke Amerika, Swiss dan Uni Emirat. Kita yakin akan terus berkembang. Sekarang share kita sudah 1,7 pesen naik dari sebelumnya 1,2 persen,” ungkapnya.
Saat ini market perhiasan juga tidak didominasi kalangan ibu-ibu sajja, namun generasi Z (Gen-Z) juga cukup besar. Mereka umumnya memerlukan banyak asesoris untuk menyesuaikan dengan pakaian yang mereka pakai. Sebab itu, desain yang update akan terus dilakukan para pengrajin dan pelaku IKM.
“Asesoris seperti ini banyak juga dari China dan Korea yang dibeli Gen-Z. Karenanya kita ikutkan juga IKM binaan dalam event ini. Produknya fashionable dan harganya terjangkau. Dan yang pasti dijamin asli. Bukan batu sintetis. Biar Gen-Z bisa melihat maka perlu event seperti ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Jefrry Thumewa, Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (Apepi) menambahkan, Surabaya Jewellery Fair 2023 diikuti 109 peserta diantaranya 67 peserta swasta, 17 peserta mesin & perangkat industri perhiasan dan 25 pengrajin IKM yang merupakan mitra-binaan Kementerian Perindustrian RI, Dinas Perindustrian & Perdagangan Provinsi Jawa Timur.
Pameran perhiasan ini sangat penting untuk pengembangan investasi di industri kreatif dan perdagangan perhiasan serta pembukaan lapangan kerja di Indonesia. Selain itu, juga untuk memperkenalkan dan mempromosikan produk-produk perhiasan kreatif dengan ciri khas desain etnik budaya dengan menggunakan teknologi masa kini dalam industri perhiasan.
“Pameran ini sekaligus sebagai sarana bagi pengusaha kecil dan menengah untuk meningkatkan pangsa pasar dan penjualan produk-produk perhiasan kreatif di tanah air. Kami berharap dapat memberikan semangat kewirausahaan kepada anak bangsa melalui UKM yang maju, tangguh, mandiri dan juga dapat berperan sebagai motor penggerak dalam perekonomian nasional yang berbasis ekonomi kerakyatan di era pasar bebas,” ungkap Jeffry. (*/fix)
Editor : Jay Wijayanto