SURABAYA - Harga daging ayam di Jawa Timur (Jatim) terus mengalami kenaikan sejak dua bulan terakhir. Yakni mulai dari Rp 38.000 hingga Rp 43.000 per kilogram (kg).
Hal ini tidak hanya membuat pembeli komoditas ini mengeluh, tapi juga penjual daging ayam juga bingung menjualnya. "Dari agen kita ngambilnya dengan harga yang sudah tinggi, sehingga laba kami juga tidak banyak," ujar Nur Yanto, salah satu pedagang daging di kawasan Ketintang.
Ia mengaku sudah dua bulan ini menjual daging ayam pada kisaran harga Rp 38.000 - Rp 40.000 per kg. Menurutnya, banyak pelanggan yang mengurangi jumlah pembelian daging ayam. "Kalau biasanya beli sekilo, sekarang cuma setengah kilo. Nah kalau terkait banyak hajatan, artinya mau nggak mau pembeli terpaksa membeli meskipun harganya mahal," jelasnya.
Masih di kawasan yang sama, Rudi penjual pecel ayam juga mengeluhkan mahalnya daging ayam dan telur. Menurutnya, jika ia menaikkan harga makanan, pengaruhnya terhadap pelanggan yang komplain harga. "Solusinya porsinya kita kurangi. Artinya ayamnya jadi kecil-kecil motongnya. Kami berharap ada solusi cepat dari pemerintah agar harga daging ayam dan telur kembali normal," katanya.
Berdasarkan Sistem Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) harga rata-rata daging ayam di Jatim adalah Rp 38.135 per kg. Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Pamekasan Rp 43.500, sedangkan harga rata-rata terendah di Kabupaten Tulungagung Rp 34.666.
Kemudian untuk pasar di Surabaya, yakni Pasar Genteng misalnya, komoditas ini dijual dengan harga Rp 36.000 per kg. Di Pasar Keputran, Pucanganom dan Wonokromo Rp 37.000, sedangkan di Pasar Soponyono Rp 39.000 dan Pasar Tambahrejo Rp 38.000.
Sedangkan untuk harga rata-rata telur di Jatim adalah Rp 30.158. Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Pamekasan Rp 31.500. Dan harga rata-rata terendah di Kota Surabaya Rp 29.166.
Ketua Asosiasi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Rofi Yasifun mengatakan, harga telur dari tingkat peternak juga mengalami kenaikan. Menurutnnya, harga dari kandang sudah mencapai Rp 27.500. "Jadi di pasar biasanya dijual dengan harga Rp 30.000 ke atas. Harga ini sebenarnya masih wajar ya, karena biaya produksi seperti pakan ternak juga mengalami kenaikan drastis," terangnya kepada Radar Surabaya, Senin (17/7).
Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap penyebab harga daging ayam yang terus meningkat. Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mengatakan, sejak Januari 2023 banyak peternak ayam yang mengeluh akan anjloknya harga jual daging dan telur.
"Para peternak itu mengadu langsung kepada Presiden Joko Widodo. Karena itulah, pemerintah kemudian berupaya untuk menyelamatkan para peternak dari kebangkrutan dengan melakukan penyesuaian harga. Bahwa kalau mau ayam dan telur ini berkelanjutan, masih bisa diproduksi, peternaknya tidak bangkrut itu harganya harus disesuaikan," terangnya.
Selain itu, lanjutnya, ada sejumlah komponen terkait dengan peternak ayam seperti jagung hingga soybean meal (tepung kedelai) yang juga harganya harus diakomodir. Termasuk juga kenaikan harga bahan bakar minyak. (mus/nur)
Editor : Jay Wijayanto