SURABAYA - PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS) tetap optimis tahun ini mampu meningkatkan kinerjanya. Sebab itu, perusahaan scrap kapal bekas ini tetap fokus pada bisnis utama dan melakukan diversifkasi usaha persewaan alat berat yang dinilai lebih menjanjikan ke depan.
Menurut Meilyna Wdijaja, Direktur Utama OPMS, kondisi bisnis besi scrap kapal bekas memang mengalami penurunan. Hal ini karena dinamika supply chain bahan bakunya sedang menurun. Kondisi ini sudah terjadi sejak tahun 2022 lalu.
Namun begitu, pihaknya tetap optimis tahun ini mampu meningkatkan kinerjanya. Selain fokus pada bisnis utama scrap besi kapal bekas, OPMS juga mulai mengembangkan bisnis lain. Salah satunya penyewaan alat berat.
“Dari sisi penawaran kapal bekas, persaingan semakin meningkat karena dinamika supply chain kapal bekas yang ada. Kami tetap optimis. Kami akan memperluas jangkauan pemotongan kapal di seluruh Indonesia dan membuka cabang Perseroan di Batam,” kata Meilyna, Jumat (23/6).
Pada kuartal 1 tahun 2023, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 181,01 juta atau mengalami penurunan sebesar 97,01 persen jika dibandingkan dengan tahun 2022. Penurunan pendapatan ini dikarenakan karena penurunan volume penjualan besi scrap.
Perseroan di Q1 Tahun 2023 juga mengalami rugi bersih sebesar Rp 1,645 miliar atau meningkat 170,31 persen dari rugi bersih tahun 2022 sebesar Rp 608,89 juta. Peningkatan rugi bersih Perseroan dikarenakan penurunan volume pemotongan kapal di tahun 2023.
“Perseroan memandang optimis kondisi perekonomian di tahun 2023. Meskipun masih terjadi ketegangan geopolitik dan inflasi, pertumbuhan ekonomi khususnya di Indonesia menunjukkan ke arah yang lebih baik dari tahun 2022,” tambahnya.
Rubbyanto, Direktur OPMS menambahkan, tahun 2022, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 22,51 miliar atau turun sebesar 45,34 persen jika dibandingkan dengan tahun 2021. Penurunan pendapatan ini dikarenakan karena penurunan volume penjualan besi scrap
Tahun 2022 perseroan juga mengalami rugi bersih sebesar Rp 860,85 juta atau meningkat 143,31 persen dari rugi bersih tahun 2021 sebesar Rp 353,80 juta. Peningkatan rugi bersih Perseroan dikarenakan penurunan volume pemotongan kapal di tahun 2022.
Dengan membuka cabang baru di Batam, perseroan berkomitmen untuk menambah lini bisnis baru berupa persewaan alat berat. Diharapkan dari bisnis ini akan menambah diversifikasi pendapatan, peningkatan pendapatan, jangkauan pasar yang lebih luas serta peningkatan daya saing.
“Kami berharap dari diversifikasi bisnis persewaan alat berat ini akan berkontribusi 10 persen terhadap pendapatan perseroan,” tutur Rubbyanto. (fix)
Editor : Jay Wijayanto