Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pasar Global Melambat, INAI dan ALMI Konservatif dan Perkuat Produk Added Value

Jay Wijayanto • Sabtu, 17 Juni 2023 | 08:44 WIB
KONSERVATIF: Dari kiri; Wibowo Suryadinata, Cahyadi Salim dan Welly Muliawan menjelaskan kondisi pasar global dan domestik yang melambat sehingga INAI dan ALMI bersikap konservatif. (M AFIQ/RADAR)
KONSERVATIF: Dari kiri; Wibowo Suryadinata, Cahyadi Salim dan Welly Muliawan menjelaskan kondisi pasar global dan domestik yang melambat sehingga INAI dan ALMI bersikap konservatif. (M AFIQ/RADAR)

SURABAYA -  PT Indal Aluminium Industry Tbk (INAI) dan PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI) tahun ini bersikap konservatif. Hal ini menyusul melambatnya ekonomi di Amerika dan Eropa yang menjadi tujuan utama ekspor perseroan selain Australia dan Kanada.

Cahyadi Salim, Direktur INAi menjelaskan, kondisi market produk aluminium baik di pasar domestik maupun di pasar ekspor belum sepenuhnya membaik. Di pasar domestic setelah terkena pandemik sekarang masuk musim pemilu sehingga produk untuk konstruksi juga melambat

Sementara di pasar ekspor, dua kawasan yang jadi tujuan utama yakni Amerika dan Eropa sekarang sedang dilanda krisis. Sehingga demand produk INAI dan ALMI mengalami pelambatan. Demikian juga dengan pasar di Kanada dan Australia mulai terkena dampaknya.

“Karena sekarang kami fokus mengembangkan produk yang memiliki added value solar frame panel part yang mulai berkembang marketnya terutama di pasar ekspor,” papar Cahyadi, Kamis (15/6).

Dijelaskan, potensi produk untuk energi terbarukan di dalam maupun di luar negeri akan terus berkembang. Sebab itu, pihaknya fokus mengembangkan produk tersebut. Kebetulan mesin yang ada sekarang bisa dipakai memproduksi solar frame panel part sehingga tidak memerlukan investasi baru.

Terkait kinerja tahun 2022, dia mengaku kurang bagus. INAI mencatatkan penjualan sebesar Rp 1,439 triliun dengan rugi bersih Rp 113,95 miliar. Capaian tersebut naik tipis 0,2 persen dibandingkan 2021 yang sebesar Rp 1,436 triliun.

Dari total penjulan tersebut, sebanyak Rp 883,94 miliar disumbang penjualan ekspor atau tumbuh 56,6 persen dibandingkan ekspor 2021. Sedangkan tahun 2023, kuartal I, penjualan INAI mencapai Rp 347,43 miliar dimana 51 persen dari pasar ekspor dan 48,4 persen pasar domestik.

Sementara itu, Direktur ALMI, Wibowo Suryadinata menjelaskan, ALMI yang memproduksi aluminium sheet dan aluminium foil pun juga tertekan kondisi perekonomian global sejak tahun lalu, terutama dari pasar AS dan Eropa yang mengalami perlambatan ekonomi akibat Covid-19 dan perang Rusia - Ukraina.

Dia memperkirakan pada 2024, pemulihan ekonomi global terutama di Amerika dan Eropa masih melambat dan pertumbuhannya diperkirakan hanya 2,1 persen dan 0,9 persen. Sementara zona Asia meskipun lebih baik, belum menjadi pasar utama ALMI. “Namun kami tetap mengutamakan pasar ekspor sambil mencari pasar baru di Asia dan pasar lokal,” kata Wibowo.

Tahun 2022, ALMI mencatatkan penjualan USD 80,7 juta turun dari 2021 yang mencapai USD 102,4 juta. Perseroan pada 2022 juga mencatat rugi USD 3,2 juta. Tahun 2021 masih untung USD 0,04 juta.

“Tahun lalu, kontribusi pasar ekspor 44 persen dimana pasar Eropa berkontribusi 25 persen, Amerika 10 persen, Asia 6 persen dan Australia 3 persen. Dan tahun ini diharapkan bisa sama dengan pencapaian tahun lalu atau tumbuh sedikit,” tutup Wibowo. (fix)

Editor : Jay Wijayanto
#Alumindo Light Metal Industry #Indal Aluminium Industry #pasar global