Henry Nugroho, Managing Director Galaxy Sumatera, menjelaskan, potensi market properti asing di Surabaya cukup besar. Apalagi sekarang kondisinya sudah normal setelah ada pandemic, tentu tahun ini akan lebih baik lagi dari tahun lalu.
“Tahun lalu kami membukukan penjualan 55 miliar dari Surabaya dari 20 developer asing yang kami tawarkan. Kami yakin tahun ini ada kenaikan. Minimal bisa mencapai Rp 80 miliar. Kami optimis. Sebab sekarang sudah normal kembali ,” kata Henry Nugroho, Senin (20/3).
Dijelaskan, beberapa properti asing yang menjadi incaran investor asal Surabaya paling banyak di Australia dan Malaysia. Selain itu juga ada beberapa properti di Eropa seperti di Spanyol, Portugal dan Yunani. Bahkan properti di Uni Emirat Arab khsuusnya di Dubai juga menjadi incaran.
Ada beragam faktor mengapa investor Surabaya mengincar properti asing. Pertama karean untuk kepentingan study anaknya di luar negeri. Sehingga akan lebih efisien jika membeli apartemen atau rumah daripada harus menyewa yang nilainya cukup mahal seperti Australia dan Malaysia.
Selain itu, juga untuk kepentingan bisnis. Invstor yang umumnya para pengusaha itu merasa perlu memiliki properti di luar negeri dimana mereka sering melakukan perjalanan kesana untuk kepentingan bisnis. Pertimbanganya juga karena menyewa proeprti di luar negeri juga mahal.
Pertimbangan lainnya adalah karena Permanent Resident (PR). Artinya, ada investor yang tertarik membeli properti di luar negeri karena adanya kebijakan dari negara yang menawarkan PR atau Golden Visa bagi pembeli asing. Sehingga mereka tidak perlu repot-repot mengurus visa lagi seperti di Eropa.
“Namun ada juga yang membeli properti asing karena pertimbangan investasi. Karena properti dinilai sebagai instrumen investasi yang likuid dan aman selain emas. Selain disewakan dengan nilai 4-6 persen dari nilai properti, juga harganya setiap tahun selalu naik,” tambah Henry.
Sementara itu, Bambang Budiono, Principle Ray White HR Mohammad menambahkan, investor Surabaya paling senang mengincar properti di Australia seperti di Sydney, Perth dan Melbourne. Selain dekat juga banyak warga Surabaya yang anaknya belajar di sana.
“Menyewa disana sekarang rata-rata AUD 555 per minggu. Sehingga lebih murah membeli properti daripada menyewa. Kalau nanti study anaknya sudah selesai bisa disewakan dan jadi passive income,” ujar Bambang.
Selain itu, Malaysia dan Singapura juga menjadi incaran. Selain untuk keperluan Pendidikan anaknya juga biasnya untuk keperluan kesehatan. Banyak warga Surabaya yang berobat ke Malaysia dan Singapura.
Sementara di Eropa yang dicari mereka lebih suka berburu properti di Spanyol dan Portugal. Selain harganya yang dinilai masih belum terlalu mahal, prosesnya juga cepat. Dan mereka kalau berkenan bisa langsung mengurus Permanent Resident atau Golden Visa yang bisa digunakan bepergian bersama keluarga ke seluruh Eropa tanpa harus mengurus visa di setiap negara yang dikunjungi.
“Umumnya mereka membeli apartemen. Namun ada juga yang suka landed house. Bahkan ada juga yang membeli ruko dan pom bensin. Rata-rata harga yang mereka beli harganya mulai 350 ribu Euro atau sekitar Rp 4-5 miliaran. Sementara di dalam negeri kami juga memasarkan produk di Bali dan Gili Trawangan dengan harga Rp 800 juta hingga 1 miliaran,” papar Bambang Budiono. (fix/jay) Editor : Administrator