Menurutnya isu strategis yang tidak terselesaikan tersebut adalah masih maraknya illegal fishing dan penggunaan trawl dalam penangkapan ikan. “Selain itu masih rendahnya masyarakat terhadap perundangan di sektor laut. Artinya masih banyak aktivitas di laut yang tidak berizin, banyak kapal nelayan yang tidak memiliki izin. Ke depan kita akan melakukan penertiban dan pengawasan dengan cara yang humanis,” katanya.
Isa mengatakan masa depan kelautan dan perikanan ada pada budidaya, bukan pada tangkap. Karena pada sektor tangkap di laut sudah mendekati over fishing. “Maka sekarang penangkapan harus terukur. Artinya pemerintah pusat menerapkan semua ikan yang ditangkap harus ada PNBP (penerimaan negara bukan pajak),” jelasnya.
Lebih lanjut Isa mengatakan pandemi Covid-19 membuat PDRB sektor perikanan anjlok hingga -0,69 persen. Kemudian tahun 2020 pemerintah melakukan intervensi yang membuat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mulai naik pada tahun 2021. “Tahun 2022 PDRB sektor perikanan mendekati 5,71 persen. Kalau tidak ada intervensi maka tidak akan ada peningkatan PDRB,” katanya.
Berdasarkan data Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPMHP) ekspor komoditas perikanan Jawa Timur ke mancanegara tahun 2022 tertinggi secara nasional yang mencapai 381.477 ton dengan nilai ekspor 2.602.492.056 USD. Dengan komoditas unggulan ekspor yaitu udang mencapai total 84.582,49 ton, dan ikan Tuna dengan total ekspor 54.195,79 ton.
Setelah Jawa Timur, adalah DKI Jakarta dengan jumlah total ekspor 303.037 ton, kemudian Sulawesi Selatan 190.753 ton, selanjutnya Jawa Tengah 59.216 ton, dan Sumatera Utara dengan total ekspor 49.889 ton.
Sedangkan berdasarkan data Statistik Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur total produksi perikanan tangkap di Jawa Timur tahun 2022 mencapai 598.317 ton. Dan ini merupakan tertinggi secara nasional melebihi wilayah di Indonesia Timur. Seperti Maluku dengan capaian 551.846,2 ton, Sulawesi Selatan 417.700,72 ton, Sulawesi Utara 366.738,21 ton, dan Maluku Utara 361.499,65 ton.
Komoditas unggulan perikanan tangkap di Jatim ada dua. Yaitu, ikan tongkol dengan hasil produksi mencapai 64.947,80 ton dan ikan lemuru dengan hasil produksi mencapai 70.284,83 ton. Kemudian produksi perikanan budidaya di Jawa Timur juga tertinggi ketiga nasional pada tahun 2022. Total produksi perikanan budidaya mencapai 1.313.745,14 ton. Di pulau Jawa, Jawa Timur menjadi produsen perikanan budidaya tertinggi.
Kalau produksi perikanan budidaya, kita berada di peringkat ketiga. Di bawah Sulawesi Selatan dengan total produksi mencapai 3.077.497,40 ton dan Nusa Tenggara Timur dengan total produksi 1.403.093,35 ton.Terdapat tiga jenis komoditas unggulan perikanan budidaya di Jawa Timur yang mencapai hasil produksi paling tinggi. Ketiga komoditas tersebut ialah bandeng dengan capaian produksi sebesar 170.319 ton, lele dengan capaian produksi sebesar 136.435,89 ton, dan udang vannamei dengan capaian produksi sebesar 103.949,74 ton.
Sebagai informasi, Potensi kelautan dan perikanan yang dimiliki Jatim yakni luas laut 5.202.579,34 Ha, garis pantai 3.543,54 km, kapal penangkap ikan sebanyak 50.979 unit, destinasi wisata 218 lokasi, jumlah ekspor 385.083 ton, instalasi migas 66 unit, jumlah pulau 504 pulau, jumlah pembudidaya 276.670 orang, nelayan 235.578 orang, terminal khusus 67 unit, usaha pengolahan dan pemasaran 26.070 unit, Pelabuhan umum 121 unit, Pelabuhan penyebrangan 16 unit.
Sedangkan untuk hasil Perikanan budidaya tahun 2020 sebanyak 1.264.569,21 Ton, tahun 2021 sebanyak 1.292.451,68 Ton, tahun 2022 sebanyak 1.314.043,12 Ton. Kemudian Perikanan tangkap tahun 2020 sebanyak 508.389,46 Ton, tahun 2021 sebanyak 533.084,12 Ton, tahun 2022 sebanyak 598.317 Ton. Sedangkan Garam rakyat, tahun 2020 sebanyak 396.253,54 Ton, tahun 2021 sebanyak 740.414,08 Ton, dan tahun 2022 sebanyak 402.845,84 Ton. (mus/jay) Editor : Administrator