Wali Kota Eri Cahyadi mengungkapkan, realisasi investasi Kota Surabaya tahun 2021 meningkat menjadi Rp 29,22 triliun, dari tahun 2020 sebelumnya Rp 22,15 triliun. Realisasi tahun 2021, terdiri dari Rp 2,85 triliun Penanaman Modal Asing (PMA) dan Rp 26,37 triliun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Sementara itu, Data Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jatim menunjukkan investasi PMDN Kota Surabaya tertinggi se-Jatim triwulan III 2022 yakni Rp 17,5 triliun atau 36,2 persen dari total investasi.
Sedangkan angka pengangguran itu berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya pada triwulan II 2022 mengalami penurunan. Dalam laporan BPS itu, menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada 2022 menurun 2 persen, tepatnya di angka 7,62 persen.
Sebelumnya, angka pengangguran terbuka itu naik drastis pada tahun 2019 di angka 5,76 persen. Kemudian, pada saat pandemi Covid-19 tahun 2020 meningkat menjadi 9,79 persen. Selanjutnya, pada tahun 2021 angka TPT itu menjadi 9,68 persen, dan akhirnya pada 2022 di triwulan II turun menjadi 7,62 persen.
Surabaya mulai menunjukan gairahnya sebagai kota perdagangan sejak liberalisasi ekonomi di Indonesia yang booming tahun 1870. Liberalisasi ekonomi mampu mendorong modal swasta masuk ke Surabaya.
Sejarawan Kota Surabaya Purnawan Basundoro mengatakan dinamika perdagangan di Kota Surabaya abad ke-19 sampai abad ke-20 sangat dipengaruhi oleh merebaknya perkebunan di kawasan pedalaman serta perkembangan industri di Surabaya. Selain itu, masuknya modal swasta mampu meningkatkan kantor dagang dan bank asing di Surabaya. (mus/nur) Editor : Administrator