"Sedangkan jumlah penyertaan modal Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejak pendirian BUMD pertama kali sampai dengan saat ini senilai Rp3,969 triliun," ujar Emil, Senin (28/11).
Mantan Bupati Trenggalek ini mengatakan, sejauh ini kontribusi PAD yang berasal dari deviden BUMD sudah melebihi total penyertaan modal Pemprov Jatim kepada BUMD. Menurutnya peranan BUMD tidak semata-mata dilihat dari besarnya setoran deviden, melainkan juga dari kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, misalnya dari penyerapan tenaga kerja, penyaluran kredit kepada UMKM, dan lain-lain.
"Penyertaan modal Pemprov Jarim kepada BUMD terakhir kali dilakukan pada tahun 2019. Sejak saat itu sampai sekarang, belum ada lagi penyertaan modal yang diberikan kepada BUMD. Beberapa BUMD memang belum maksimal memberikan kontribusi PAD, tapi kami terus berupaya untuk mencari penyebabnya. Melalui evaluasi RKAP, laporan keuangan BUMD hingga kajian khusus dengan bantuan tenaga ahli," jelasnya.
Emil menyampaikan besaran penyertaan modal kepada tujuh BUMD dan realisasi PAD yang dihasilkan atau disumbangkan untuk PAD Jatim. Pertama adalah PT Air Bersih Jatim, jumlah penyertaan modal yang diberikan sebesar Rp125 miliar dan realisasi PAD senilai Rp29,258 miliar.
Kedua, PT Bank Jatim dengan jumlah penyertaan modal yang diberikan sebesar Rp1,919 triliun dengan realisasi PAD senilai Rp5,029 triliun. Dan ketiga, PT BPR Jatim dengan jumlah penyertaan modal Rp360,380 miliar dan realisasi PAD Rp134,084 miliar.
Keempat, PT PWU dengan jumlah penyertaan modal 1sebesar Rp145,935 miliar dengan realisasi PAD senilai Rp56,996 miliar. Kelima, PT JGU dengan jumlah penyertaan modal Rp785,674 miliar dengan realisasi PAD senilai Rp28,915 miliar.
Keenam, PT PJU jumlah penyertaan modal yang disertakan Rp453,809 miliar dan realisasi PAD Rp82,337 miliar. "Dan ketujuh, PT JAMKRIDA, jumlah penyertaan modal yang disertakan sebesar Rp179,500 miliar dan realisasi PAD Rp7,975 Miliar," pungkasnya. (mus/rak)
Editor : Administrator