Direktur Utama Bank Jatim Busrul Iman menjelaskan, acara festival budaya ini untuk memperingati serangkaian momen penting. Yaitu, HUT Pemerintah Provinsi Jawa Timur ke-77, peringatan Sumpah Pemuda, dan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November. ”Tema yang diangkat adalah kearifan lokal. Taglinenya, indahnya masa jadul,” ujarnya, Minggu (6/11).
Masyarakat dapat merasa kan pengalaman yang beragam dalam satu tempat.
Karena Bank Jatim menggelar festival budaya itu dengan tiga elemen tema yang berbeda.Yaitu, tandhing kidung parikan, bazar tempo doeloe, dan dolanan tradisional. ”Tidak hanya budaya Jawa Timur, ada juga seni tarian dari seluruh nusantara,” ucapnya.
Hal itu merupakan bentuk kontribusi Bank Jatim dalam melestarikan budaya di tengah kemajuan informasi dan teknologi yang berkembang pesat. ”Untuk melestarikan budaya lokal kita adakan lomba parikan atau pantun,” tuturnya.
Menurut Busrul, saat ini memerlukan cara berkomunikasi yang baik. Salah satunya dengan budaya parikan. Dalam misinya, melalui pagelaran lomba parikan membentuk pola komunikasi yang mudah diterima oleh masyarakat dan meminimalisir pergesekan. ”Dengan penyampaian yang jenaka, pesan di dalamnya akan mudah dipahami karena menggunakan bahasa yang egaliter,” jelasnya.
Jawa Timur memiliki berbagai macam kearifan lokal dan seni tradisi. Karena itu, Busrul menuturkan, ada potensi acara festival budaya digelar tidak hanya di Surabaya. Rencananya, acara yang sama bakal digelar sesuai dengan budaya dan tradisi pada tiap daerah. ”Daerah-daerah di Jawa Timur memiliki karakteristiknya sendiri,” terangnya.
Anggota DPR RI Komisi XI Indah Kurnia mengapresiasi Bank Jatim dalam menyelenggarakan acara tersebut. Katanya sesuai dengan tagline Bank Jatim ”sat set, wat wet”. Karena telah berhasil menyiapkan dengan matang dalam waktu dua pekan. ”Kita bernostalgia di tempat ini, terima kasih Pak Busrul,” ucapnya.
Indah berharap supaya festival budaya itu menjadi acara tahunan. Karena, acara itu mendapatkan respons positif dari beberapa kepala suku etnis di Surabaya. ”Ini menjadi wadah untuk semua seniman nusantara yang ada di sini,” ucapnya.
Indah bertemu tokoh ludruk semasa kecil dan beberapa musisi. Selain itu, dia merasa bahagia sekali melihat permainan tradisional yang disiapkan dalam festival budaya itu. ”Saya berharap kawan musisi tradisional bisa eksis lagi seperti dulu dan ada taman hiburan rakyat berikutnya,” katanya.
Tanding kidung parikan dengan total hadiah puluhan juta rupiah ini merupakan bentuk apresiasi Bank Jatim kepada pelaku penerus kidung parikan. ”Bukan saya yang kaget dengan apresiasi ini, tapi Cak Tawar sama Cak Kuprit,” kelakarnya.
Dia menegaskan tradisi kidung parikan wajib dipertahankan. Harapannya, supaya festival budaya yang digelar dapat mempererat tali persaudaraan. Selain itu, mengubah kebiasaan anak-anak agar mudah bersosialisasi dan mengurangi kecanduan terhadap gadget. ”Mlaku-mlaku tuku roti nang Pasar Turi. Nang Pasar Keputran kulakan kuaci. Neng NKRI harga mati, kidung parikan kudu lestari,” tutupnya dengan pantun.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menjelaskan banyak tugas untuk menarik generasi muda supaya lebih mencintai budaya. Namun, akan lebih sulit jika tanpa upaya. Dia mengapresiasi Bank Jatim karena telah berhasil mewujudkan festival budaya. ”Ini dulunya bioskop ya, tapi hari ini justru kita fungsikan sebagai sebuah tempat untuk mementaskan budaya,” urainya.
Emil menyebutkan Surabaya merupakan sebuah melting pot. Artinya, tempat berkumpul semua budaya dari berbagai wilayah. Dia mendorong supaya Surabaya menjadi ikon Bhineka Tunggal Ika. ”Hal seperti ini yang akan membangun peradaban sebuah masyarakat. Kita ingin Surabaya akan semakin dikenal sebagai tempat budayawan dan kelompok seni,” imbuhnya. (hil/opi) Editor : Administrator