Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dosen UWP Kembangkan Budidaya Semanggi Hidroponik Terintegrasi dengan Lele

Administrator • Senin, 3 Oktober 2022 | 00:08 WIB
NEKAT: Tersangka Rony Fieds yang bersama temannya nekat mengeroyok dan menganiaya anggota polisi dari Polda Jatim. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
NEKAT: Tersangka Rony Fieds yang bersama temannya nekat mengeroyok dan menganiaya anggota polisi dari Polda Jatim. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
SURABAYA - Ada yang belum pernah makan pecel semanggi? Ya makanan khas Surabaya ini memiliki ketenaran di mata masyarakat Jawa Timur. Namun, keberadaannya hanya bisa kita temui di beberapa tempat di Surabaya dan di beberapa hari saja dalam seminggu, biasanya hanya di akhir pekan.

Salah satu tempat di Surabaya yang menjadi pusat budidaya dan pengolahan produk semanggi adalah Kampoeng Semanggi di RW 03 Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo, Kota Surabaya. Di kampung yang terdiri dari 8 RT ini terdapat lebih dari 300 pedagang semanggi yang sebagian besar hanya berjualan di akhir pekan saja.

Keberadaan pedagang semanggi ini semakin tahun semakin berkurang, pedagang menganggap bukan lagi usaha yang memiliki prospek, seiring tergantikannya lahan budidaya semanggi untuk perumahan dan lainnya. Penyebab lainnya adalah tidak semua lapisan masyarakat di Kota Surabaya sendiri, terutama remaja yang mengenal dan menggemari makanan ini.

Pemerintah Kota Surabaya sendiri di beberapa tempat sudah memberikan kewenangan kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) untuk mengelola lahan berbengkalai milik Pemkot untuk ditanami semanggi. Namun upaya ini belum maksimal, karena semanggi mensyaratkan ketersediaan air bersih yang cukup.

Menyadari hal tersebut, tim pelaksana pengabdian kepada masyarakat Universitas Wijaya Putra (UWP) yang dipimpin oleh Suprayoga, SE., M.Si, dengan anggota Aminatuzzuhro, SE., M.Si., M.Ak. dan Ir. Faisol Humaidi, MP. membuat terobosan dengan mengembangkan budidaya semanggi dengan sistem hidroponik yang terintegrasi dengan budidaya ikan lele yang sudah ada sebelumnya. "Kami bekerja sama dengan Paguyuban Petani Semanggi di Kampoeng Semanggi Kendung," kata Supratoga.

Kegiatan ini diberikan pendanaan penuh dari Direktorat Riset, Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi untuk tahun anggaran 2022.

Sistem budidaya Semanggi yang didampingi dosen UWP ini, memungkinkan petani untuk mendapatkan keuntungan ganda, yaitu dari hasil ikan lele dan juga semanggi. Selain itu, juga mampu mengatasi kelangkaan air terutama di musim kemarau.

Proses pemanenan daun Semanggi juga bisa lebih cepat dengan hasil yang lebih optimal, karena ketersediaan air yang cukup dan pupuk dari kotoran ikan juga memberbaiki nutrisi media tanam semanggi. Kualitas daun semanggi juga lebih baik, daun lebih segar dan lebih berbobot.

Selain itu, tim pelaksana juga memberikan pelatihan pembuatan ecoenzim dan pestisida nabati dari daun mimba, untuk mengatasi hama terutama wereng yang menyerang daun semanggi.

Selain memberikan pelatihan budidaya, tim pelaksana juga memberikan pelatihan dan pendampingan bagi ibu-ibu paguyuban pedagang semanggi, antara lain; pembuatan produk boba semanggi, semanggi instan dan aneka kue berbasis semanggi, dan pelatihan kesehatan pangan.

Pelatihan terakhir ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada ibu-ibu pedagang semanggi agar selalu menjaga kebersihan dan higienitas produknya dan proses pelayanan ketika berjualan. Pemahaman tentang kesehatan pangan ini meliputi pra produksi, produksi, dan pasca produksi.

Pada tahap pra produksi dimulai dengan pemilihan bahan terbaik dan melihat kebersihan bahan dari pemasok, proses penyimpanan dan penyiapan produksi.

Pada tahap produksi dilihat dari proses pencucian, ketersediaan air bersih, tempat produksi, peralatan, penggunaan alat pelindung diri meliputi apron/celemek, masker, penutup kepala dan sarung tangan, dan orang yang memproduksi juga harus bersih.

Pada tahap pascaproduksi dilihat kebersihan ketika penyimpanan sebelum menjual, proses transportasi, pemilihan lokasi berjualan, dan proses pelayanan. (nin/jay) Editor : Administrator
#Universitas Wijaya Putra #dosen uwp #Budidaya Semanggi Hidroponik #Sememi Benowo #Terintegrasi dengan Lele