“Pihak Pertamina menyatakan bahwa mereka sudah mensuplai, bahkan melebihi kuota bulanan. Jadi, tingginya tingkat konsumsi solar subsidi salah satunya karena ada indikasi mobil pribadi yang masuk kelas mewah menggunakan solar subsidi,” ujar Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak di Surabaya, Rabu (6/4).
Menurut dia, selisih harga antara subsidi dan nonsubsidi memang sangat jauh. Sehingga, ada indikasi kendaraan yang biasanya nonsubsidi beralih ke subsidi. “Ini yang membuat konsumsi meningkat,” jelasnya.
Emil mengimbau masyarakat yang menggunakan mobil pribadi agar menggunakan solar nonsubsidi. “Kita diingatkan Pertamina, kalau mobil kelas atas supaya bisa membantu lah. Memang belum ada aturan spesifik agar menggunakan nonsubsidi. Kita imbau kalau bisa jangan pakai subsidi,” katanya.
Emil memastikan, komunikasi akan terus berjalan dengan pihak Pertamina. Ia juga meminta secara khusus kepada Pertamina agar sektor ekonomi di pelabuhan mendapat prioritas suplai solar subsidi.
“Ini bukan ranah kami untuk masuk, tapi kami koordinasi agar titik-titik rawan agar disuplai, misal di pelabuhan,” kata wagub yang juga ketua DPD Demokrat Jatim.
Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Adik Dwi Putranto menyebut kelangkaan solar dalam beberapa hari ini bisa menghambat distribusi barang dan industri. Menurut dia, kelangkaan solar tersebut cukup meresahkan para pengusaha. Terutama yang bergerak di sektor distribusi barang karena waktunya tersita untuk mengantre minyak.
“Pasti ini berdampak dan mengganggu kelancaran industri dan perdagangan di Jatim, baik besar hingga kecil. Kami berharap ini tidak berlarut terjadi sehingga dampak terhadap ekonomi juga tidak signifikan,” katanya.
Menurut Adik, kelangkaan solar ini terjadi karena kebutuhan solar subsidi tidak sebanding dengan kuota solar yang ditentukan pemerintah untuk 2022. Di Jatim, kuota solar tercatat 2.281.581 kiloliter (kl) per tahun. Angka ini turun dibandingkan kuota tahun lalu sebanyak 2.352.388 kiloliter.
“Kuota tahun ini dihitung berdasarkan dari realisasi penyaluran solar 2021, sedangkan tahun lalu konsumsi solar tidak naik karena masih pandemi Covid-19,” katanya.
Adik menambahkan, kuota tahun ini juga tidak dihitung dengan adanya kebutuhan pada saat momen Ramadan dan Lebaran serta meredanya pandemi Covid-19 yang memacu pergerakan dan pemulihan ekonomi.
“Pemerintah tidak menghitung adanya puasa dan mulai meredanya pandemi. Sehingga, ketika ada lonjakan kebutuhan, yang terjadi solar tidak mencukupi dan kelangkaan ditemui di mana-mana," ujarnya.
Adik menambahkan, bahwa Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sendiri juga telah mengajukan surat penambahan alokasi solar 2022 untuk Jatim di 2022 306.045 kl.
“Kekurangan solar itu mestinya bisa diatasi dengan menambah alokasi solar subsidi. Mudah-mudahan secepatnya teratasi walaupun melebihi kuota karena ini adalah diskresi,” harapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Jatim Anwar Sadad meminta Pemprov Jatim untuk mengawasi proses distribusi solar. Pemprov Jatim diminta terus bersinergi dengan Pertamina. “Jangan dibiarkan begitu saja. Pasokan harus diperhatikan dan kebutuhan di Jatim berapa. Jangan sampai hal tersebut luput dari pengawasan,” katanya.
Sadad mengatakan, kelangkaan solar subsidi ini bisa semakin berlarut-larut karena harga solar nonsubsidi sudah di atas Rp 11 ribu. “Saya khawatir, kendaraan yang seharusnya pakai nonsubsidi beralih ke subsidi karena harga yang naik. Jadi makin parah karena harga nonsubsidi naik drastis, benar-benar drastis. Kenaikannya 30 persen lebih,” ungkap Sadad.
Menurut dia, krisis solar sebenarnya mulai terjadi sejak akhir tahun lalu. “Harusnya sejak saat itu sudah ditangani dengan baik. Saya khawatir solar subsidi ini bocor ke tangan yang tidak berhak. Ini yang harus kita pelototi,” tegas politisi Gerindra itu.
Sementara itu, Section Head Communication and Relations PT Pertamina Jatimbalinus Arya Yusa Dwi Candra mengatakan, kelangkaan solar yang terjadi di SPBU disebabkan lambatnya distribusi dari terminal BBM. Kini, Pertamina sedang melakukan optimalisasi distribusi.
“Saat ini sedang optimalisasi mobil tangki. Permintaan pertalite cukup tinggi. Sekarang kami penuhi solar. Jadi, ada jeda waktu distribusi yang cukup lama dari Terminal BBM ke SPBU,” ujarnya.
Terkait stok solar di Jatim, Arya menegaskan sejauh ini aman. Sebab, Pertamina Patra Niaga telah mengaktifkan pos layanan Satgas Ramadan dan Idul Fitri 2022. Nah, kebutuhan solar di Jatim ditaksir sekitar 182 ribu kiloliter pada bulan ini.
“Naik dibandingkan dengan kebutuhan Januari 2022 yang sebesar 170 ribu kiloliter,” katanya.
Selain memastikan stok aman, Pertamina juga menjamin harga BBM jenis solar tidak naik. Solar subsidi tetap dipatok Rp 5.150 per liter. Arya pun meminta masyarakat tidak panik. “Kami sangat mengapresiasi jika konsumen tidak panic buying,” tuturnya. (mus/rek) Editor : Lambertus Hurek