Menurut Susanto, Ketua Kordinator Wilayah (Korwil) Duta Petani Milenial dan Andalan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Jawa Timur, pemanfaatan lampu LED UV pada tanaman fungsi utamanya adalah memutus siklus hama yang menjadi momok bagi petani. Sehingga serangan hama otomatis akan berkurang dan hasil panen akan lebih maksimal.
Pemanfaatan lampu LED UV bahkan dinilai jauh lebih efektif dan efisien dibanding dengan cara konvensional menggunakan obat racun insektisida. Sebab, penggunaan lampu LED UV hanya sekali investasi di awal, namun bisa digunakan dalam jangka waktu lama, bisa 2 tahun lebih.
Sementara penggunaan obat insektisida yang umumnya disemprotkan ke tanaman untuk mengusir atau membunuh hama, digunakan secara berkala. Biasanya 3 hari sekali melakukan penyemprotan. Sehingga secara akumulasi biayanya jauh lebih mahal. Sementara kalau menggunakan lampu LED UV, penyemprotan hama hanya 3 kali dalam satu musim tanam.
Dia menggambarkan, biaya satu tangki semprot hama sekitar Rp 200.000. Untuk area 1/6 hektar sekali semprot hama memerlukan 4-5 tangki. Sehingga sekali semprot untuk 1/6 hektar lahan dibutuhkan biaya sekitar Rp 1.000.000. Kalau lahan satu hektar sekali semprot bisa menelan biaya hingga Rp 6 juta.
Padahal, dalam satu tahun bisa 4-5 musim tanam. Sehingga kalau menggunakan cara lama dengan menyemprot tanaman dengan obat insektisida, maka biayanya antara 80-100-an juta dalam setahun per hektar. Sementara menggunakan lampu LED UV hanya sekali mengeluarkan biaya Rp 12 jutaan pada saat awal melakukan instalasi di sawah saja. Sedangkan alatnya bisa dipakai lebih dari 2 tahun.
“Kalau menggunakan lampu LED UV, biayanya hanya Rp 12 juta per hektar. Itu bisa dipakai bertahun-tahun. Namun kalau pakai cara lama (penyemprotan), biayanya untuk mengatasi serangan hama bisa sampai Rp 20-25 juta per hektar per musim. Jadi jauh lebih hemat menggunakan lampu LED UV,” kata Susanto saat ditemui di rumahnya, Sabtu (4/12).
Sebab itu, dia bersama para kepala desa, para petani, dinas terkait dan semua stake holder akan terus berupaya melakukan sosialisasi pemanfaatan lampu LED UV bagi para petani terutama tanaman bawang merah. Karena Kabupaten Nganjuk merupakan salah satu lumbung bawang merah di Indonesia. Saat ini yang sudah dilakukan di Desa Klagen Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk Jawa Timur.
Di Desa Klagen tepatnya Dusun, Grendul, Susanto melakukan pendampingan kepada para petani bawang merah disana. Lahan yang menggunakan teknologi lampu LED UV belum luas, hanya 4,5 hektar. Fungsi lampu LED UV tersebut untuk mengurangi serangan hama pada tanaman bawang merah.
Setiap hektar, hanya memerlukan 30 lampu dimana setiap lampu hanya berdaya 0,5 watt. Sehingga total lahan satu hektar hanya memerlukan 15 watt saja lampu LED UV. Inilah yang membuat pemanfaatan lampu LED UV pada tanaman bawang merah sangat efisien dan jauh lebih hemat biayanya.
Selain itu, lampu LED UV juga ramah terhadap lingkungan. Sebab dengan menggunakan lampu LED UV, maka penyemprotan hama menggunakan obat kimia insektisida berkurang signifikan. Sebagai pembanding, Susanto mengaku, kalau model konvensional hampir setiap 2-3 hari sekali melakukan penyemprotan hama dengan biaya yang tidak sedikit.
Namun dengan menggunakan lampu LED UV, penyemprotan bisa dilakukan hanya 2-3 kali saja selama satu musim tanam. Karena hamanya sudah banyak yang mati kesedot lampu LED UV dan jatuh di ember yang disediakan didekat lampu.
“Penggunaan lampu LED UV juga aman bagi manusia. Karena arusnya sudah diubah dari AC ke DC lewat adaptor. Sehingga petani tidak akan kesetrum meskipun malam-malam pergi kesawah. Ini benar-benar safety buat manusia. Selain itu juga menggunakan sensor cahaya, sehingga lampu akan menyala dan padam sendiiri secara otomatis,” katanya.
Bagaimana hasil panennya? Menurut Susanto, baik yang menggunakan model konvensional dan lampu LED UV, mungkin sama hasil panennya. Namun biaya yang dikeluarkan petani jauh lebih murah menggunakan lampu LED UV. Sehingga secara bisnis keuntungan yang didapat petani juga jauh lebih besar jika menggunakan lampu LED UV.
Dia mengaku, pemanfaatan lampu LED UV ini akan lebih efektif dan efisien jika digunakan di hamparan yang lahannya luas. Sehingga perkembangan hama yang bisa dihilangkan atau diputus siklusnya juga akan lebih banyak. Namun diakui, hal itu tidak mudah. Sebab untuk mengubah mindset petani dari metode konvensional ke metode berbasis teknologi agak susah.
Disinilah peran Badan Usaha Milik Petani (BUMP) sangat dibutuhkan. Sebab lewat BUMP, nanti akan terorganisasi dengan baik sehingga sosialisasi akan lebih mudah. Selain itu petani juga akan memiliki daya tawar yang tinggai sehingga harga komoditas bisa dijaga karena tidak dimainkan lagi oleh para tengkulak.
“Bahkan BUMP bisa melakukan kemitraan dengan banyak pihak baik bank, perusahaan dan akedimisi, sehingga persoalan yang dihadapi para petani seperti pembibitan, SDM, permodalan dan pemasaran secara perlahan akan teratasi. Selama ini para petani kesannya berjalan sendiri-sendiri. Tidak terorganisasi dengan baik,” ujar Susanto.
Sementara itu, Supriyadi, petani yang sekaligus Humas BUMP Klagen – Rejoso – Nganjuk mengatakan, pihaknya menyambut bak adanya teknologi lampu LED UV untuk tanaman bawang merah di desanya. Dia yakin, meskipun saat ini baru 4,5 hektar yang ikut program pemanfaatan lampu LED UV, namun kedepan jumlahnya akan bertambah.
Selain terbukti efektif mampu mengendalikan jumlah hama yang menjadi momok bagi para petani bawang merah, juga kebutuhan daya listriknya sangat rendah. Dia menggambarkan, saat ini di desanya dimana lahan 4,5 hektar yang ditanami bawang merah telah menggunakan 150 unit lampu LED UV.
Sumber energinya untuk 150 lampu LED UV tersebut diambilkan dari listrik di rumahnya yang berdaya 900 watt. Dia mengaku, biaya untuk kebutuhan daya listrik 150 lampu LED UV tersebut hanya Rp 50 ribu per minggu atau Rp 200 ribu per bulan. Sangat murah sekali.
Itupun sudah termasuk untuk kebutuhan listrik di rumah kami. Karena itu, kalau saja, PLN mau menyediakan aliran listriknya ke sawah, maka bukan hanya 4,5 hektar yang akan menggunakan lampu LED UV, namun bisa sampai 67 hektar. Sebab banyak petani yang tertarik.
“Aliran Listrik di sawah sangat penting bagi kami. Selain untuk lampu LED UV, juga kami gunakan untuk pompa air disawah dan sprinkle untuk penyiraman bawang merah,” ujar Supriyadi.
Menyikapi hal itu, Manager PT PLN - Unit Layanan Pelangggan (ULP) WaruJayeng – Nganjuk, Joko Pitoyo mengatakan, pihaknya akan mensupport sepenuhnya kebutuhan listrik para petani. Sebab hal itu akan makin memberdayakan peran petani terutama dalam program ketahanan pangan nasional.
Namun begitu, pihaknya harus melihat dulu kondisi di lapangan. Apakah di lapangan sudah ada jaringan dan tinggal menambah sedikit lagi jaraingan. Atau membuat jaringan baru. Sebab hal itu menyangkut investasi yang akan dikeluarkan untuk membangun jaringan. Dan jumlahnya tidak sedikit.
“Intnya kami siap melayani kebutuhan listrik masyarakat. Sebab daya listrik di Nganjuk masih cukup. Namun kami harus melihat dulu kondisi dilapangan. Apakah bisa dikerjakan cepat atau bertahap. Apalagi ini 67 hektar, perlu perencanaan yang matang. Sebab harus investasi jaringan untuk jangka panjang,” ujar Joko Pitoyo.
Dikatakan, saat ini PLN punya program Eletricfying Agriculture mengembangkan Desa Wisata Betet, lewat PLN Peduli. Dimulai tahun 2017 dengan melakukan normalisasi sungai dibantu PTPN dan Bumdes. Kemudian tahun 2018 dilakukan penanaman pohon bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nganjuk.
Pada tahun 2019 dan 2020 diadakan penghijauan, bersih-bersih sungai dan pembangunan infrastruktur serta pelatihan. Dan pada tahun 2021 pihaknya mengadakan pavingisasi dan estetika lokasi. Saat ini Desa Wisata Betet menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Ngajuk. Disana juga diadakan Edukasi Tani Terpadu bersama P4S Jatim. Bahkan ada Wahana Edukasi Tani Listrik.
Jumlah pengunjungnya terus meningkat. Kalau tahun 2017 masih 1.231 orang, tahun 2020 mencapai 96.617 orang. Jumlah pedagang juga naik dari 2 orang tahun 2017 menjadi 64 orang (2020). Jumlah pendapatan juga naik dari 12,3 juta tahun 2017 menjadi Rp 996,1 juta tahun 2020.
“Sedangkan lahan petani yang menggunakan listrik semula 7 hektar (2019) meningkat menjadi 24 hektar pada tahun 2020. Intinya kami akan mensupport kebutuhan listrik para petani,” ujar Joko Pitoyo. (fix/jay) Editor : Administrator