Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Investasi Di Jatim Pada Semester I-2021 Capai Rp 34,8 Triliun

Administrator • Kamis, 26 Agustus 2021 | 22:43 WIB
MASIF: Infrastruktur menjadi andalan investasi di Jatim. (DOK/RADAR SURABAYA)
MASIF: Infrastruktur menjadi andalan investasi di Jatim. (DOK/RADAR SURABAYA)
SURABAYA - Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP)  Jawa Timur Aris Mukiyono mengatakan, capaian investasi Jawa Timur (Jatim) semester I sebesar Rp 34,8 triliun. Menurutnya, capaian ini menyumbangkan kontribusi 7,9 persen investasi nasional. “Capaian ini juga terdorong oleh pertumbuhan investasi yang positif sebesar 4,3 persen pada triwulan dua tahun 2021,” ujarnya.

Aris berharap sesuai rencana kerja dan target pada tahun 2021 ini, Jatim akan mampu merealisasikan investasi sebesar Rp 65 triliun. Ia menambahkan, selama semester 1 tahun 2021 ini, realisasi investasi Jatim masih didominasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yaitu sebesar 23,9 triliun. “Sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) di Jatim terealisasi Rp 10,9 triliun pada semester satu tahun ini,” katanya.

Lebih lanjut Aris mengatakan, jika dilihat dari sektornya, untuk PMDN dan PMA yang paling dominan adalah industri makanan dan minuman sebesar Rp 9 triliun.  Kemudian disusul dengan sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi dengan realisasi sebesar Rp 8 triliun, sektor perumahan dan kawasan industri dan perkantoran sebesar Rp 3,7 triliun, sektor industri kimia dan farmasi sebesar Rp 2,6 triliun,  sektor industri kertas Rp 2,2 triliun, dan sektor lain-lain sebesar Rp 9,2 triliun.

“Untuk PMA yang mendominasi juga makanan dan minuman. Yang memberikan 50 persen kontribusi PMA adalah Nestle yang merealisasikan investasi Rp 3,6 triliun di Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Sidoarjo,” jelasnya.

Menurutnya, jika dipetakan realisasi capaian investasi Jatim berdasarkan lokasi, baik untuk PMA dan PMDN yang tertinggi masih ada di Kota Surabaya dengan realisasi investasi Rp 10,5 triliun. Kemudian Pasuruan sebesar Rp 5 triliun, Gresik Rp 4,7 triliun, Sidoarjo Rp 4,4 triliun, Kediri Rp 1,6 triliun, dan lain-lain Rp 8,6 triliun.

“Dari data semester satu ini, memang PMA masih butuh kita genjot, maka kita harus sama-sama sepakat bahwa permasalahan investasi bukan hanya permasalahan provinsi, melainkan juga butuh bantuan dari kabupaten/kota. Sehingga yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mempromosikan dan meyakinkan calon investor untuk mau berinvestasi di Jatim,” katanya.

Aris menuturkan, investasi bukan komoditas barang yang dijual, namun sebuah kepercayaan. Sehingga tugas kabupaten/kota juga yang harus memberikan calon investor kepercayaan termasuk terkait perizinan, percepatan layanan sehingga mampu menarik minat investor menanamkan modal di Jatim.

“Pada triwulan dua tahun 2021 memang investasi Jatim tumbuh signifikan dengan pertumbuhan 4,3 persen dibanding triwulan pertama tahun 2021,” ujarnya.

Kemudian pada bulan April, Mei, Juni capaian investasi di Jatim Rp 17,7 triliun dengan komposisi PMA sebesar Rp 3,8 triliun dan PMDN Rp 13,9 triliun. Pertumbuhan investasi Jatim triwulan dua ini lebih tinggi dibanding nasional sebesar 1,5 persen.

“Jatim masih menjadi surga investasi bagi penanam modal dalam negeri, dan PMA masih butuh dikejar lagi agar bagaimana pihak asing tertarik menanam modal di Jatim,” tegasnya.

Saat ditanya terkait proyeksi ke depan, Aris menyatakan bahwa tantangan di triwulan berikutnya memang tidak semakin ringan mengingat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sejak awal Juli 2021 lalu.

Meski demikian ia berharap, dengan upaya pemutusan penyebaran Covid-19  yang efektif dan akselerasi pelaksanaan vaksinasi yang kian masif, iklim investasi di Jatim dapat dijaga kondusivitasnya. (mus/nur) Editor : Administrator
#Aris Mukiyono. Investasi Jatim #DPMPTSP Jawa Timur