Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dampak Covid-19, UMKM Jatim Berpotensi Merugi 100 Persen

Administrator • Senin, 27 April 2020 | 23:42 WIB
Dampak Covid-19, UMKM Jatim Berpotensi Merugi 100 Persen
Dampak Covid-19, UMKM Jatim Berpotensi Merugi 100 Persen

SURYANTO/RADAR SURABAYA


TURUN DRASTIS: Tutupnya pusat oleh-oleh hingga toko makanan membuat UMKM kehilangan pasar dan berpotensi mengalami kerugian yang besar.





SURABAYA-Merebaknya wabah Covid-19 di tanah air, membuat pemerintah menetapkan beberapa kebijakan strategis demi memutus mata rantai penyebaran virus tersebut. Mulai belajar dan bekerja dari rumah hingga larangan mudik. Namun demikian, adanya larangan ini berdampak signifikan terhadap kinerja usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Bahkan, potensi kerugian sektor UMKM di Jawa Timur (Jatim) bisa mencapai 100 persen. 


Hal ini disampaikan Ketua Himpunan Pengusaha Mikro, Kecil, dan Menengah Indonesia (Hipmikimdo) Jatim Bambang Wahyuono. Menurutnya, adanya larangan mudik ini membuat hampir semua pusat oleh-oleh di Jatim tutup. Sehingga tidak ada omzet yang masuk. "Potensi kerugiaan total UMKM di Jatim saya kira sulit untuk dihitung karena data UMKM setiap dinas/kantor bisa berbeda. Namun bisa lihat bahwa saat ini pusat dan toko oleh-oleh tutup semua dan omset tidak ada," terangnya di Surabaya, Senin (27/4). 


Bambang mengungkapkan, Hipmikindo Jatim sendiri memiliki 2.000 anggota UMKM yang secara umum penjualannya anjlok 70-100 persen. Anjloknya penjualan UMKM ini juga bagian dari tutupnya pusat oleh-oleh yang 95 persen produknya seperti camilan dan souvenir. "Seperti sovenir boneka dari Bojonegoro, posisi sekarang ini masih ada produknya di pusat oleh-oleh di Malang dan nilainya Rp 35 juta-an yang akhirnya berhenti," ungkapnya.


Meski pusat oleh-oleh tutup, tetapi UMKM berusaha mencari cara menggenjot omzet terutama untuk produk makanan dan minuman di momen Ramadan yang lumayan masih ada peminatnya. "Usaha makanan olahan yang sudah jalan, baik sebelum Covid-19 dengan mempunyai produk yang berkualitas dan brand yang kuat ternyata masih bisa stabil, seperti produk camilan crispy berbahan coklat, dan produk makanan frozen," ujarnya.


Dalam sebulan terakhir ini, lanjut Bambang, UMKM Jatim mau tidak mau akhirnya belajar untuk menjual produknya secara online. Setidaknya 80-100 persen UMKM beralih ke online,baik melalui media sosial Instagram, Facebook dan Whatsapp Group, terutama untuk produk fashion, aksesoris dan mamin. "Ini juga jadi perkembangan menarik, karena akhirnya banyak UMKM yang dulu tidak familier dengan online akhirnya beralih dengan memaksa belajar meningkatkan kemampuannya," imbuhnya. (cin/nur)

Editor : Administrator
#pandemi covid-19