Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dorong Nilai Tambah Ekspor Kopi, Petani Harus Lakukan Pengolahan

Administrator • Rabu, 28 Agustus 2019 | 01:24 WIB
Dorong Nilai Tambah Ekspor Kopi, Petani Harus Lakukan Pengolahan
Dorong Nilai Tambah Ekspor Kopi, Petani Harus Lakukan Pengolahan



SURABAYA – Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur (Disperindag Jatim) terus berupaya ekspor komoditas kopi memiliki nilai tambah. Pasalnya selama ini, 73 persen ekspor kopi dari Jatim masih berupa biji kopi.


Kepala Disperindag Jatim Drajat Irawan mengatakan, ke depan pihaknya berupaya untuk mengekspor kopi yang sudah diolah. Ia meyakini bahwa kopi yang sudah diolah akan ada pengingkatan harga mulai 30 – 60 persen. “Ekspor kopi dan olahan kopi Jatim pada tahun 2018 mencapai USD 187,09 juta,” katanya.


Drajat menambahkan, selain biji kopi yang mendominasi, ekspor juga dilakukan berupa kopi instan sebesar 22,17 persen dan sisanya berupa kopi bubuk, biji kopi panggang (roasted), dan minuman kopi lainnya. Menurutnya, negara utama tujuan ekspor kopi antara lain adalah Mesir, Jepang, Italia, Amerika Serikat, dan Taiwan.


Sementara itu impor kopi dan olahan kopi di Jatim pada tahun 2018 mencapai USD 90,35 juta. Sebagian berupa biji kopi belum diolah 49,86 persen yang berasal dari Vietnam, Brasil, dan Papua Nugini. “Ini artinya neraca ekspor impor kopi di Jatim mengalami surplus,” katanya.


Drajat menambahkan, Indonesia urutan kelima produsen kopi dunia, sedangkan Jatim pada urutan kelima secara nasional. Untuk itu ia ingin mengembangkan lagi satu progress tentang kopi itu sendiri. “Kita terus melakukan upaya-upaya peningkatan kualitas. Terutama di sisi industri. Kita mulai dari bahan baku. Sesuai dengan arahan Bu Gubernur (Khofifah Indar Parawansa, Red) adalah petik, olah, kemas, jual. Kami, mengarahkan ke olah, kemas, jual,” tuturnya.


Sementara itu Ketua Dewan Kopi Jatim Muhammad Zaki mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan kelompok industri kopi dan petani kopi untuk menggerakkan kopi Jatim tidak hanya untuk diekspor, tapi juga sebagai andalan industri unggulan nasional. Hal ini dilakukan agar pada tahun 2030 Indonesia tidak menjadi salah satu negara didunia yang menjadi importir kopi.


“Kami akan menggerakkan bagaimana petani tidak hanya sekadar menanam secara konvensional, tetapi petani modern bisa juga menjadi petani industri kopi yang berkualitas baik yang bisa diterima pasar lokal dan dunia. Petani kopi modern harus bisa menjadikan kopi industri yang kita harapkan hasilnya,” jelasnya.


Zaki menuturkan, harus ada upaya yang dilakukan, yakni melakukan pembinaan, advokasi, dan edukasi. Sehingga petani tidak hanya menjual kepada pedagang saja, tetapi juga bisa mengelola dari proses hulu ke hilir. “Untuk total lahan kopi di Jatim kurang lebih 30 juta hektare, setiap kali panen dalam satu hektar setiap tahun bisa menghasilkan 750 sampai 1.000 kilogram (kg) yang konvensional. Tetapi melalui advokasi, edukasi dan pembinaan kita berharap kepada petani setiap kali panen bisa menghasilkan 1.500 sampai 2.000 ribu Kg,” pungkasnya. (mus/nur)

Editor : Administrator
#disperindag jatim