SURABAYA - Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) menargetkan kinerja industri percetakan bisa tumbuh 10 persen tahun ini. Pertumbuhan ini didukung dengan adanya momen pemilihan umum, tahun ajaran baru, hingga perkembangan industri rumah tangga.
Ketua PPGI Ahmad Mughira Nurhani mengatakan, pihaknya optimistis industri ini tumbuh dengan bagus karena adanya potensi pasar yang cukup besar. Adapun sepanjang semester I 2019 kemarin, industri percetakan mengalami pertumbuhan akibat adanya kegiatan pemilu yang berdampak pada kenaikan omzet yang lumayan. "Di samping itu, kegiatan anak sekolah yang masuk tahun ajaran baru yang membuat adanya permintaan cetakan buku-buku sekolah," terangnya.
Menurutnya, saat momen tahun ajaran baru atau Juni, permintaan cetak buku sekolah meningkat. Ditambah dengan adanya industri rumah tangga untuk segmen percetakan kertas atau packaging produk UMKM. "Cetakan untuk packaging ini meningkat karena banyak produk buatan rumah tangga sekarang dikemas dengan bagus, supaya menarik," imbuhnya.
Selain itu, adanya kebijakan pemerintah yang melarang buku-buku katalog atau petunjuk untuk produk elektronik dan lainnya dicetak di luar negeri dinilai sangat membantu industri percetakan tanah air. Buku-buku katalog dan petunjuk penggunaan alat elektronik terutama yang berbahasa Indonesia wajib dicetak di dalam negeri.
"Jadi cetaknya harus di Indoensia, tidak boleh diimpor dari negara lain. Ini sangat mendukung industri percetakan kita, meskipun jumlah perusahaan percetakan berkurang," jelasnya.
Adapun sejauh ini, percetakan di segmen buku pemerintahan, buku pendidikan, majalah dan koran memberikan kontribusi terhadap kinerja industri ini hingga 50 persen. Sedangkan di segmen packaging masih sekitar 30 persen, dan sisanya untuk segmen lain seperti security.
Meski begitu, lanjutnya, potensi industri percetakan ini terus mengarah pada mesin digital yang tidak perlu mencetak dalam jumlah banyak seperti mesin-mesin cetak kapasitas besar yang sekali produksi mencapai 1.000 – 20.000 cetakan.
Di tempat yang sama, CEO Kristamedia Exhibitions Daud Salim menuturkan, pihaknya kembali menyelenggarakan gelaran Surabaya Printing Expo tahun ini. Gelaran pameran kali ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, baik dari segi jumlah maupun teknologi printing yang dihadirkan.
"Tahun ini pameran melibatkan 115 peserta dari berbagai perusahaan printing, kalau tahun lalu hanya 75 peserta. Diharapkan jumlah pengujungnya juga bisa mencapai 12.500 orang selama pameran," katanya.
Daud memperkirakan, gelaran yang berlangsung selama 1 – 4 Agustus 2019 di Grand City Surabaya ini diperkirakan bisa terjadi transaksi langsung maupun business to business (B2B) sekitar Rp 250 miliar. Berdasarkan pengalaman sebelumnya satu perusahaan rata-rata mampu menjual 10 unit mesin printing dengan harga bervariasi bahkan ada yang harganya Rp150 juta. (cin/nur)
Editor : Administrator